Amr bin Tsabit Mati Syahid
Foto :

HIDAYAH hanyalah milik Allah.

Barang siapa yang Allah beri hidayah, tidak ada seorang pun yang bisa menyesatkannya dan barang siapa yang telah Allah sesatkan, tidak ada seorang pun yang bisa memberi hidayah kepadanya. 

“.....Dan Allah selalu memberikan hidayah kepada siapa yang dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah: 213).

Dikisahkan ‘Amr bin Tsabit salah seorang diantara pemuda dari kaum Bani Asyahali di zaman Nabi yang  enggan masuk Islam meski banyak kaumnya yang telah mengikuti jejak tokohnya yang terkenal Saad bin Muaz memeluk Islam.

Ketika itu, Rasulullah bersama para sahabatnya bersiap kemedan perang Uhud.

Datanglah ‘Amr bin Tsabit menghadap Rasulullah menyatakan ingin masuk Islam dan ingin turut berperang bersama Rasulullah.

Rasulullah menyambut gembira keinginan 
'Amr.  Namun di antara sahabat banyak yang heran keberadaan ‘Amr dalam medan perang itu. Mereka belum tahu tentang keislaman ‘Amr karena masing-masing sibuk dalam persiapan kemedan perang.

Dalam pertempuran itu ‘Amr memperlihatkan keberaniannya, ia tak peduli dengan luka-luka di tubuhnya terkena sabetan senjata musuh. 

Dalam keadaan luka parah ‘Amr dibawa pulang ke keluarganya dan beberapa saat kemudian wafat.

Suatu ketika Abu Hurairah berada di sebuah majelis.

Dia berkata, "Ceritakan padaku sebuah kisah tentang orang yang masuk surga padahal belum pernah sholat sama sekali."

Namun para sahabat terdiam, tak ada yang tahu kisah tersebut.

Abu Hurairah mengatakan dialah 'Amr bin Tsabit. Sebelumnya 'Amr pernah diajak memeluk Islam namun masih enggan meski sebenarnya dalam hatinya sudah ada dorongan menjadi Muslim.

Ketika terjadi Perang Uhud, 'Amr mencari pamannya dan anak-anaknya, juga mencari temannya yang lain tak  menemukannya.  

‘Amr mendapatkan info mereka yang dicari itu ke bukit Uhud turut berperang melawan kaum Quraisy. 

Mendengar itu, 'Amr bergegas mengenakan baju zirahnya dan naik kuda, menyusul ke medan perang di bukit Uhud. 

Pasukanmuslim mencegah 'Amr bergabung karena mengira dia belum menjadi Muslim. "Aku telah beriman," jawab 'Amr sehingga anggota pasukan membolehkan ‘Amr bergabung dalam peperangan itu.

Dalam pertempuran itu, ‘Amr terluka parah. Anggota pasukan yang masih hidup mengangkut ‘Amr yang dalam keadaan luka parah itu ke keluarganya. 

Ketika ditanyakan mengapa ikut berperang ’Amr mengatakan turut berperang karena ingin masuk Islam dan beriman kepada Allah dan Rasulullah.

Tak lama kemudian ‘Amr pun menghembuskan nafas terakhirnya. Mereka menyampaikan kabar tentang ‘Amr itu kepada Rasulullah. 

Mendengar tentang kisah ‘Amr itu Rasulullah mengatakan bahwa ‘Amr termasuk salah seorang penghuni surga. 

Kisah 'Amr menunjukkan betapa luasnya rahmat Allah. Ampunan Allah terbentang bagi siapapun yang mau bertobat. 

Wallohu a’lambishshawab

(H Nuchasin M Soleh) 

**Telah dimuat di rubrik Renungan pada media cetak Harian Terbit