Berdoa, Mengapa Tidak
Foto :

BERDOA merupakan rangkaian suatu syarat untuk menggapai cita-cita, harap dan keinginan manusia yang tak lepas berkomunikasi dengan Allah Azza wa Jalla karena ada campur tangan dari-Nya. 

Allah lah yang menjadikan segalanya, manusia diwajibkan berusaha dan menyerahkan ikhtiar kita kepada-Nya diiringi dengan doa.

Dalam berkomunikasi dengan Allah merupakan cermin kepasrahan dan ketundukan manusia pada Allah sebagai pengakuan ketidakberdayaan dan kelemahan manusia dihadapaan Allah. 

Karenanya sungguh menjadi orang sombong-sesombongnya yang tak mau beribadah apalagi berdoa kepada Allah.                        

Allah memerintahkan kepada manusia untuk senantiasa berdoa, sebagaimana firman-Nya: “Dan Tuhanmu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam Keadaan hina dina“. (Q.S Al-Mu’min:60).

Imam Al-Ghazali mengatakan meski doa tidak dapat menolak qadha namun doa dapat melahirkan sikap yang bersungguh-sungguh, tertib dalam ketaataan dalam berdoa agar dikabulkan permohonannya  kepada Allah karena menolak bala dengan doa termasuk qadha Allah juga. 

Terhindarnya dari suatu bencana juga bisa disebabkan karena adanya doa sebagai perisainya.

Kita selalu berdoa agar dilindungi dari kesempitan hidup dan kekurangan. "Ya Allah aku berlindung kepada-Mu dari kefakiran, sedikit harta dan hina. Dan berlindung kepada-Mu agar tidak menzdalimi dan tidak dizdalimi’’ (HR Abu Daud dan Nasa’i). 

Rasulullah juga berdoa: ‘’Ya Allah ampunilah aku, kasihanilah aku , berilah petunjuk kepadaku, jagalah aku, dan berilah rezeki kepadaku’’  (HR Muslim).

Rasulullah mengajarkan berdoa agar terhindar dari  kemiskinan karena kemiskinan berpengaruh negatif terhadap akidah dan banyak mendatangkan mudharat bagi kehidupan sosial. 

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)