Kunci Ibadah adalah Ikhlas
Foto :

ALLAH memerintahkan manusia agar berikhlas dalam beribadah pada-Nya.

"... Mereka tidak diperintahkan kecuali hanya menyembah Allah dalam keadaan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar)."(QS Al Bayyinah:5).

Ikhlas itu pekerjaan hati dan pada hatilah menentukan baik dan buruknya perangai dan perbuatan seseorang.  

Ikhlas adalah pangkal dari iman  untuk mendekatkan diri dan mengharap ridha dari Allah atas segala amal perbuatan dalam hidup dan kehidupan.

Rasulullah pernah bersabda: Sesungguhnya amalan-amalan itu dinilai sesuai dengan niatnya masing-masing, dan sesungguhnya tiap-tiap orang hanya memperoleh apa yang diniatkannya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa hijrahnya kepada perkara dunia, niscaya ia memperolehnya; atau kepada wanita, niscaya ia menikahinya. Hijrah seseorang itu ialah kepada apa yang diniatkan oleh hijrahnya.(HR Bukhari dan Muslim).

Imam Al Ghazali mengatakan ikhlas itu adalah perbuatan yang dilakukan dengan murni dan bersih. Ikhlas itu untuk memurnikan tujuan terutama dalam beramal ibadah tidak dicampuri, riya, kesombongan dan amalan buruk lainnya,  benar-benar dihadirkan dari orang yang murni cinta kepada Allah tidak ada tempat sedikitpun dalam kalbunya untuk mencintai keduniaan semata.

Ikhlas merupakan kunci diterima dan sempurnanya amal. Secara bahasa ikhlas artinya bersih, murni dan khusus. 

Sedangkan secara istilah, ikhlas didefinisikan sebagai suatu pengosongan maksud (tujuan) untuk bertaqarrub kepada Allah SWT dari segala macam noda (kehidupan). 

Orang yang ikhlas adalah orang yang menjadikan agamanya murni hanya untuk Allah tidak menyekutukan dengan yang lain dan tidak riya dalam beramal untuk mendekatkan diri kepada Allah, bukan agar dipuji orang-orang, atau maksudnya lainnya.   

Kita bisa belajar ikhlas dari daun yang jatuh karena angin. Daun tak pernah protes kenapa angin menghempaskannya sampai kemanapun daun itu jatuh berserak mungkin di got, ditaman atau dijalanan. 

Kita juga bisa belajar dari akar tanaman yang rela menembus tanah merayap mendapatkan makanan untuk dialirkan kedaun, ranting, bunga dan buahnya agar pohon bisa hidup dan bermanfaat.

Kita juga bisa belajar ikhlas dari tanah dibumi yang setiap saat diinjak –injak oleh siapapun, dibor sampai berapapun kedalamannya, diaduk-aduk, dijadikan tempat menimbun bangkai busuk, mengubur mayat tapi tanah tak pernah protes, sakit hati atau marah. 

Wallohu a’lambishshawab

(H Nuchasin M Soleh)