Mengingkari Karunia
Foto :

SUNGGUH Allah itu sangat sayang pada hamba-Nya. Disekitar kita banyak orang-orang yang memiliki tubuh yang cacat namun memiliki keterampilan dan ilmu yang luar biasa dibandingkan orang-orang normal yang memiliki tubuh secara sehat.

Keterbatasan yang ada pada dirinya tidak menjadikannya berputus asa, lemah jiwanya, menyerah dengan nasib yang disandangnya melainkan bangkit dengan kemauan yang kuat dalam dirinya agar setidaknya memiliki kemampuan yang sama seperti orang-orang yang normal.

Ada orang tak memiliki fisik sempurna, tak memiliki kedua belah lengan tangan namun bisa melukis dengan mulutnya, bisa bekerja diladang memungut hasil tanamannya dengan kemampuan kakinya. Dengan keterbatasannya itu ia tidak membatasi dirinya menganggap 

Smemprihatinkan manakala ada orang yang fisiknya normal namun menyatakan dirinya tidak mampu untuk sesuatu pekerjaan karena merasa tak memiliki bakat, takut gagal, tak layak,  merasa lebih rendah dibanding orang lain, menyerah merasa nasibnya memang seperti itu. 

Mereka telah kehilangan pegangan lupa dengan nikmat dan karunia dengan fisik yang normal yang telah diberikan Allah. Dia telah membatasi dirinya sendiri mengatakan tidak bisa, padahal belum  mencoba melakukannya,  menyia-nyiakan kemampuan dirinya untuk melakukan sesuatu yang seharusnya bisa  dilakukan. 

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS An Nahl:18) . 

‘’Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?’’ (QS.Ar Rahmaan:13).

Setiap yang mendatangkan kenikmatan dan memberikan rasa bahagia dan senang pada kita semuanya adalah pemberian dari Allah, seharusnya dipergunakan dengan sebaik-baiknya dipergunakan di jalan yang diridhoi-Nya, untuk beribadah kepada Allah, membantu orang lain dari kesulitan, dan perbuatan kebaikan lainnya  sebagai bentuk  rasa syukur pada Allah.

Hidup kita dengan segala yang kita miliki semuanya milik Allah. Adalah kewajiban hamba Allah untuk pandai mensyukuri karuniaNya. Imam Al-Ghazali mengatakan ada cara bersyukur kepada Allah yakni bersyukur dengan hati, lisan  dan perbuatan.

“Dan apa saja nikmat yang ada pada kamu, maka dari Allah-lah (datangnya)”  (QS. An-Nahl: 53).

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)