Ketika Rasulullah Berkomunikasi
Foto :

ALLAH menciptakan makhluknya untuk saling mengenal, berkomunikasi, berinteraksi, sehingga terbentuklah aksi dan reaksi. Untuk menjaga keharmonisan dalam berkomunikasi dan berinteraksi dibutuhkan kecerdasan dan akhlak yang baik.

Rasulullah berkomunikasi untuk menciptakan hubungan yang akrab dengan orang lain agar informasi dan pesan dakwahnya  berlangsung efektif dapat mempengaruhi orang lain.

Rasulullah ketika berdakwah tidak pernah marah, sehingga siapapun ketika menghadapi Rasulullah terbangun hubungan komunikasi yang selaras yang pada awalnya menentang kemudian menerimanya.

Rasulullah berperilaku terpuji, bertutur kata dengan halus tidak menyinggung atau melukai hati orang yang diajak bicara. Rasulullah selalu menggunakan bahasa yang indah dan gaya bicara yang santun. Rasulullah juga suka membuat julukan-julukan indah terhdaap para sahabatnya, hingga istri-istrinya.

Rasulullah setiap kali memanggil Aisyah isteri beliau dengan julukan 'Wahai Humaira' yang berarti kemerah-merahan. Aisyah yang memiliki pipi kemerah-merahan.

Suatu ketika Rasulullah berada dimasjid bersama para sahabatnya datanglah seorang Yahudi menagih utang Rasulullah. Sambil berteriak lelaki itu menarik selendang dileher Rasulullah sehingga leher Rasulullah memerah.

UMar ingin memukul lelaki itu namun Rasulullah mencegahnya bahkan memerintahkan Umar mengambil uang 15 dinar untuk membayarnya, padahal utang Rasulullah 10 dinar. Yang 5 dinar diberikan sebagai ganti rugi atas perlakuan Umar terhadap orang itu.

Ada seorang pemuda mendatangi Rasulullah:“Wahai Rasulullah, izinkanlah saya untuk berzina”. Namun untuk tidak merusak relasi komunikasi yang sedang berlangsung dengan pemuda itu dengan tenang Rasulullah bersabda: “Sukakah bila istrimu dizinahi orang lain”. 

Jawabnya, “tidak”. Nabi bertanya: “Sukakah bila saudarimu dizinahi orang lain”. Jawabnya, “tidak”.  ”Sukakah bila anak perempuanmu dizinahi orang lain”. Jawabnya tidak. Selanjutnya Rasul berkata: “ Tentunya orang lainpun tidak mau ibunya, istrinya, saudarinya dan anak perempuannya dizinahi orang lain."

Kalau saja Rasulullah saat menghadapi dua subyek itu dengan marah boleh jadi orang tersebut melawan,  sakit hati bahkan  menjauh membawa dendam. Tapi dengan komunikasi Rasulullah yang selaras dua orang tersebut kemudian masuk Islam.

Anas bin Malik pernah menjadi asisten rumah tangga di kediaman Rasulullah, namun Anas merasa tak pernah dibentak Rasulullah meski terkadang melakukan kesalahan. Rasulullah menegurnya dengan santun dan lembut.

Banyak lagi kisah bagaimana Rasulullah menyikapi dengan akhlak terpuji, rendah hati, jujur, tidak sombong, tidak marah terhadap orang-orang yang membenci Rasulullah dengan berkata kasar bahkan melukai fisik beliau.

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)