Kunci Sempurnanya Amal
Foto :

IKHLAS itu pekerjaan hati dan pada hatilah menentukan baik dan buruknya perangai dan perbuatan seseorang. 

Ikhlas adalah pangkal dari iman untuk mendekatkan diri dan mengharap ridha dari Allah atas segala amal perbuatan dalam hidup dan kehidupan.  

Ibnul Qoyyim mengatakan: “Amal tanpa keikhlasan seperti musafir yang mengisi kantong dengan kerikil pasir. Memberatkan tapi tidak bermanfaat.”

Ikhlas merupakan kunci diterima dan sempurnanya amal. Secara bahasa ikhlas artinya bersih, murni dan khusus.

Sedangkan secara istilah, ikhlas didefinisikan sebagai suatu pengosongan maksud (tujuan) untuk bertaqarrub kepada Allah SWT dari segala macam noda (kehidupan). 

Buya Hamka mengatakan ikhlas itu artinya bersih tidak ada campuran sebagaimana emas murni. Pekerjaan bersih terhadap sesuatu itulah ikhlas, kata Buya Hamka dalam kitabnya Tasawuf Modern.

Ketika seseorang berniat melakukan suatu pekerjaan maka saat mulai melangkah sudah dapat menentukan kemana tujuannya dan landasannya.  

Menolong kepada fakir miskin itu perbuatan baik namun landasannya harus ikhlas karena Allah. Perbuatan dengan ikhlas hanya karena Allah semata bukan karena mengharapkan pujian orang.

Menurut Buya, ikhlas tak dapat dipisahkan dengan shiddiq (benar) tulus, tidak mendustai diri dari niatan karena Allah. Ikhlas itu satunya kata dengan hati dan perbuatan.

Ketulusan tidak cukup dinyatakan hanya di lidah karena lidah mudah berputar, mudah mangkir, karenanya ketika lidah berkata landasannya atas kehendak  hati. 

Kita bisa belajar ikhlas dari daun kering yang jatuh karena diterpa angin. Daun tak pernah protes kenapa angin menghempaskannya sampai kemanapun daun itu jatuh berserak mungkin di got, ditaman atau dijalanan. 

Kita juga bisa belajar dari akar tanaman apalagi dari pohon besar yang akarnya rela menembus tanah merayap mendapatkan makanan untuk dialirkan kedaun, ranting, bunga atau buahnya agar pohon atau tanaman itu bisa hidup dan bermanfaat. 

Kita juga bisa belajar ikhlas dari tanah dibumi yang setiap saat diinjak-injak oleh siapapun, dibor sampai berapapun kedalamannya, diaduk-aduk, dijadikan tempat menimbun bangkai, tempat mengubur mayat tapi tanah tak pernah protes, ngambek, sakit hati atau marah.

Imam Al Ghazali mengatakan ikhlas itu adalah perbuatan yang dilakukan dengan murni dan bersih. Ikhlas itu untuk memurnikan tujuan terutama dalam beramal ibadah tidak dicampuri noda, riya, kesombongan dan amalan buruk lainnya.

Keikhlasan yang sesugguhnya itu  benar-benar dihadirkan dari orang yang murni  cinta kepada Allah  tidak ada tempat sedikitpun dalam kalbunya untuk mencintai keduniaan semata.

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)