Pangkat Gelar Ketika Kita Tiada
Foto :

BANYAK orang memiliki gelar dan jabatan tinggi hasil dari jerih payah dan perjuangannya dalam menuntut ilmu dan karir.

Mereka akan dikenang setelah meninggal dunia ketika banyak perbuatan, dan ucapannya bermanfaat untuk kebaikan dan dicontoh atau ditiru oleh orang lain. Namun semua gelar itu akan sirna ketika telah tiada.

Boleh jadi ada orang bergelar dan memiliki jabatan tinggi menjadi sombong, merasa dirinya lebih mulia dibandingkan orang lain, selalu ingin dihormati, merasa orang lain tak selevel dengan dirinya, lalu merendahkan orang lain bahkan  bisa berbuat semena-mena mendholimi orang lain.

Tapi dihadapan Allah orang  seperti itu tak berguna  bahkan Allah akan memberikan siksa pedih di yaumil akhir kelak. 

“Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia (karena sombong) dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri. (QS Luqman:18).

Kiranya ada baiknya kita muhasabah introspeksi apakah  kita telah berbuat kebaikan terhadap  orang lain atau jangan-jangan selama ini kita berjalan di atas bumi Allah, dengan menyombongkan diri dan berbuat aniaya terhadap  orang lain. 

Mungkin saja selama ini kita terlalu sering meremehkan orang lain hanya karena status pendidikan dan jabatannya yang tak sama. Padahal prestasi yang dicapai selain memang atas kerja kerasnya  juga ada kekuatan dahsyat dari Allah Ta’ala yang menentukannya.

Ingatlah, orang yang mulia disisi Allah bukanlah yang bergelar dan memiliki jabatan tinggi tapi orang yang bertaqwa kepada-Nya.

“..Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal."  (QS Al-Hujurat:13).

Gelar atau jabatan tinggi apapun kelak  tak akan bisa menyalamatkan dari kematian. Jangan sampai gelar dan jabatan tinggi yang diperoleh itu membawa dan menyampaikan pemikiran-pemikiran yang justru membuat kerusakan masyarakat, menyebarkan paham-paham yang bertentangan dengan syariat menjauhkan generasi penerusnya dari ajaran tauhid, menyebarkan  faham sesat dan menyesatkan.

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)