Al ‘Ala Sang Pemberani 
Foto :

KETIKA Al Mundhir bin Sawa al ‘Abdy penguasa Kerajaan Bahrain  wafat tak lama setelah Rasulullah wafat, banyak dari suku Bakar bin Wali yang murtad, mereka memusuhi suku Abdul Qais yang masih tetap memeluk  Islam.

Kelompok yang murtad tersebut meminta bantuan Kisra, penguasa Persia untuk menguasai Bahrain. Persia kemudian memberikan bantuan kepada suku Bakar bin Wali 9.000 prajurit  bersama 600 prajurit suku Arab Badui untuk menguasai Bahrain.

Suku Abdul Qais yang muslim terkepung di benteng Juwatsa tak dapat bergerak hingga kehabisan bahan makanan.

Abu Bakar Siddieq khalifah pengganti Rasulullah setelah wafat mendengar berita itu memerintahkan Al ‘Ala Ibnul  Hadhram  seorang sahabat kepercayaan Rasulullah semasa masih hidup untuk  memimpin pasukan  menyelamatkan suku Abdul Qais.

Al ‘Ala hanya dengan 16 penunggang kuda bergerak dari Madina menuju Juwatsa yang sudah dikuasai musuh. Ditengah perjalanan sesuai perintah khalifah Abu Bakar, Al ‘Ala mengajak kaum muslimin di desa yang dilalui untuk bergabung dengan menunggang unta.

Di tengah perjalanan pada malam hari pasukan Al ‘Ala  istirahat. Namun tak diduga unta yang membawa perbekalan makan dan alat perang itu lari meninggalkan tempat. Pasukan Al ‘Ala cemas karena berada ditengah padang pasir Dahna’.

Al ‘Ala memberikan semangat pasukannya meyakinkan akan adanya pertolongan Allah. Saat subuh tiba mereka sholat diimami Al ‘Ala kemudian berdoa memohon pertolongan Allah. Tiba-tiba saat matahari terbit ada air yang mengalir dari dalam tanah sehingga mereka dapat minum dan mandi. 

Tak hanya itu tiba-tiba unta yang semula menghilang datang kembali masih dengan bawaan perbekalan. Al ‘Ala memberikan semangat kepada pasukannya bahwa sebagai muslim yang berjihad di jalan Allah dan menjadi penolong agama Allah tidak akan  sia-sia.

Pasukan Al ‘Ala kemudian menuju ke Juwatsa menyelamatkan kaum muslimin yang  berada dibawah kekuasaan pasukan murtad yang dipimpin Mundhir Ibnul Nu’man.

Prajurit Al ‘Ala yang diutus  menyusup ke benteng Juwatsa  secara diam-diam memberitahukan kepada kaum muslimin yang masih ada agar segera keluar dari kepungan musuh untuk bergabung ketika pasukan Al ‘Ala tiba dekat benteng Juwatsa.

Pada saat yang tepat, ketika pasukan suku Bakar bin Wali bersama bantuan tentara dari Persia itu terlihat  tengah mabuk pesta, dengan sigap pasukan Al ‘Ala merangsek Juwatsa.

Sementara kaum muslimin yang masih berada dalam kekuasaan pasukan murtad itu bergabung dengan pasukan Al ‘Ala. Peperangan pun terjadi hingga pasukan suku Bakar  bin Wali banyak yang terbunuh dan melarikan diri.

Mundhir bin Nu’man pemimpin pasukan kaum murtad itu berhasil disandera, kemudian masuk Islam. Khalifah Abu Bakar Siddieq kemudian menetapkan Al ‘Ala sebagai pemimpin di Bahrain.

Wallohu ‘alambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)