Pahala Meminjamkan Uang
Foto :

ISLAM menganjurkan umatnya membantu sesamanya dengan sedekah atau memberikan pinjaman. Yang kuat meringankan beban yang lemah sedangkan yang lemah membantu saudaranya di bidang yang ia mampu.

"..Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.." (QS Al-Ma'idah: 2).

Rasulullah juga bersabda, orang yang melapangkan kesempitan saudaranya, akan dilapangkan oleh Allah pada hari kiamat.

Boleh jadi orang yang memberikan pinjaman beresiko pinjamannya tidak dikembalikan sedangkan pemberi sedekah tidak beresiko.

Terkadang jumlah uang pinjaman lebih besar dibanding uang sedekah sehingga orang yang meminjam dapat menggunakan pinjamannya untuk modal usaha atau memenuhi kebutuhannya.

Sedangkan dari sedekah biasanya sedikit hanya untuk memenuhi kebutuhan sesaat.
Tanpa mengecilkan arti sedekah, pahala meminjamkan uang lebih besar dibandingkan sedekah. 

Diriwayatkan oleh Anas bin Malik, Rasulullah  bersabda: "Aku melihat di saat aku diisra'kan pada pintu surga tertulis, shadaqah dilipatgandakan sepuluh kali lipat. Memberi utang dilipatkan 18 kali lipat.

Kemudian aku bertanya kepada Jibril, 'Bagaimana orang yang memberi utang lebih utama dari pada bershadaqah?' Kemudian Jibril menjawab 'Karena orang yang meminta, (secara umum) dia itu meminta sedangkan dia sendiri dalam keadaan mempunyai harta.

Sedangkan orang yang berutang, ia tidak akan berutang kecuali dalam keadaan butuh'." (HR. Ahmad, At-Tirmidzi, Ibnu Hibban).

Rasulullah bersabda: “Siapa yang menolong orang lain yang tengah dililit kesulitan dengan memberi utang, maka bagi pemberi utang telah disediakan pahala laksana ia bersedekah setiap hari senilai utang yang diberikan, sampai utang tersebut dilunasi atau kemudian dihalalkan sebagai sedekah; terutama pada saat pengutang tidak lagi sanggup membayarnya setelah jatuh tempo dengan alasan yang dibenarkan syariat. 

Namun sebagai pemimjam berkewajiban mengembalikan pinjamannya, jangan sampai ketika wafat masih memiliki utang,kecuali yang meminjamkan ikhlas.

“Dari Abu Hurairah, Rasulullah  bersabda, “Siapa yang meminjam (berutang) harta atau uang dengan niat hendak membayar, niscaya Allah pasti akan membantu menunaikannya."

Sedangkan siapa saja yang berutang dengan niat hendak merusak atau tidak berniat mengembalikannya, niscaya Allah pasti akan mencatat dan menetapkan niatnya sebagai suatu tindak keburukan. Dan, kelak akan bertemu Allah sebagai seorang pencuri.” (H.R. Bukhari).

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)