Rakus Harta dan Jabatan
Foto :

RASULULLAH pernah mengatakan bahwa satu saat nanti akan datang suatu zaman dimana perhatian manusia hanya tertuju pada urusan perut dan kehormatan. Orientasi mereka pada kebendaan (materi) semata-mata. Yang hak dikatakan bathil, yang haram dikatakan halal, yang benar dikatakan salah dan yang salah dibenarkan.

Keadaan yang terjadi sekarang boleh jadi benar seperti yang dikatakan Rasulullah. Sikap hidup yang serba materi dan nafsu syahwat telah menguasai manusia modern.

Yang nampak terlihat seakan bahagia padahal sesungguhnya jiwanya telah didera tak habisnya oleh persoalan dunia. Masalah akhirat hanya terkadang saja tersentuh. Ingat akhirat ketika datang musibah namun setelah itu menjauh bahkan tak menghiraukannya lagi.

Nafsu kebendaan telah menguasai diri sehingga mendorong hati menjadi kasar, suka mengancam dan rakus. Keadaan seperti itu akan berpengaruh terhadap kehidupan suatu negeri dengan berbagai macam masalah. 

Sebaliknya manakala suatu negeri dihuni penduduknya yang beriman dan bertakwa maka kehidupan menjadi tenteram, sehingga Allah menurunkan keberkahan bagi penduduknya.

”Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”(QS  al  A’raf :96).

Tamak rakus terhadap harta, jabatan, kedudukan bisa merusak agamanya karena tidak secara sadar orang-orang seperti itu akan suka menebar kebohongan, berbuat keji menghalalkan segal;a macam cara agar keinginannya tercapaui. 

Dari Ka’ab bin Mâlik Radhiyallahu anhu ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Dua serigala yang lapar yang dilepas di tengah kumpulan kambing, tidak lebih merusak dibandingkan dengan sifat tamak manusia terhadap harta dan kedudukan yang sangat merusak agamanya.” (HR Tirmidzi, Ahmad).

Rasulullah mengingatkan dunia itu tempat ujian dan cobaan. Kerakusan harta dan jabatan merupakan sumber kezdaliman. Banyak orang yang diberi kekayaan, jabatan dan kekuasaan namun menjadi sombong, angkuh memutuskan silaturahim ukhuwah Islamiyah.

Orang-orang yang gila kepada harta, kedudukan, jabatan, dan cinta kepada dunia, mereka akan menyesal pada hari kiamat. Yaitu ketika mereka diberikan catatan amalnya dari sebelah kirinya. Semua kekuasaan, jabatan, dan hartanya tidak bermanfaat di akherat.

"Hartaku sama sekali tidak memberi manfaat kepadaku. Telah hilang kekuasaanku dari padaku“ (QS.Al-Hâqqah:28-29 ).

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)