Sabar Sesuai Syariat dan Akal
Foto :

BERSABAR termasuk salah satu bagian ibadah yang sangat mulia dan merupakan perintah syari’at (untuk mengerjakan sesuatu), atau berupa larangan syari’at (untuk tidak mengerjakan sesuatu).

Kata sabar banyak disebutkan dalam Al Qur’an menunjukkan betapa pentingnya masalah sabar. Al Qur’an menjadikan sabar sebagai kriteria apakah seseorang  layak untuk memasuki surga dan mendapatkan sambutan kehormatan para malaikat.

"Dan Dia memberi balasan kepada mereka karena kesabaran mereka (dengan) surga dan (pakaian) sutera “ (QS al Insan:12).

Sabar berasal dari kata “sobaro-yasbiru” artinya menahan diri sesuai syariat dan akal, menjaga lisan dari celaan, menahan anggota badan dari berbuat dosa, tidak bersikap berlebihan dan boros.

Manusia sebagai makhluk yang berakal dibebani ujian dan cobaan dari Allah harus dihadapi dengan sabar.

Imam Al Ghazali mengatakan:”sabar merupakan ciri khas milik manusia dan tidak dipunyai oleh hewan karena kekurangannya dan tidak pula oleh malaikat karena kesempurnaannya.”

Menurut Imam Al Ghazali hewan dikuasai oleh nafsu syahwat (instink) yang diciptakan untuk melaksanakan tugas nafsu syahwatnya.

Hewan bereaksi dan berespons dengan dorongan nafsu syahwatnya, tidak memiliki kekuatan untuk meniadakan atau mengontrol nafsu syahwatnya. 

Malaikat sepenuhnya cenderung mengabdi kepada Robbnya dan rela mendekatkan dirinya kepada Allah. Malaikat tidak memiliki nafsu syahwat sehingga tidak mengalami konflik dalam mendekatkan dirinnya pada Allah

Memang tidak mudah dalam merealisasikan kesabaran. Ketika tengah marah boleh jadi orang berkata kesabaran ada batasnya. Kalau kesabaran ada batasnya berarti tidak sabar.

Sabar sangat penting dimiliki seorang muslim ketika mendapatkan kesenangan maupun kesusahan, ketika sehat maupun sakit, ketika berpunya maupun tidak berpunya, dalam kadaan lapang maupun sempit. Semua diterimanya dengan sabar, tidak berlebihan dalam senang atau susah dan tak boleh berputus asa.

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)