Optimistis Menjalani Hidup
Foto :

TAK dipungkiri setiap manusia memiliki keinginan meraih yang terbaik di dalam hidupnya. Ada suka dan duka silih berganti dalam kehidupan didunia  merupakan sunnatullah dan tidak akan selamanya terjadi  karena satu-satunya tempat kehidupan abadi hanya di akhirat ada surga dan ada pula neraka.

Dr Aidh Al Qarni dalam kitabnya “La Tahzan” mengatakan orang cerdik akan berusaha mengubah  kerugian menjadi keuntungtan. Sedangkan orang bodoh akan membuat suatu musibah menjadi bertumpuk dan berlipat ganda.

Orang yang optimistis selalu memandang keatas melihat bintang-bintang gemerlap kemudian tersenyum, sedangkan orang yang pesimistis selalu memandang kebawah kemudian bersedih dan menangis.

Kehidupan di dunia adalah ujian dan cobaan. Orang beriman akan bersyukur manakala mendapatkan kenikmatan dan karunia dari Allah dan akan bersabar manakala mendapatkan kedukaan atau kesedihan. 

“…. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan ” (QS. Al-Anbiya: 35).

Agar keinginannya tercapai harus berusaha dengan sungguh-sungguh dengan dorongan sikap optimistis tapi juga dengan dorongan kesabaran ketika belum tercapai keinginannya. Dengan keimanan dan ketaqwaannya berprasangka baik terhadap Allah optimistis bahwa Allah akan menolongnya.

Dengan sikap optimistis dan berprasangka baik terhadap Allah maka kalaupun ditengah jalan mengalami kegagalan maka dia akan tetap menyadari dan meyakini bahwa Allah pasti memberikan yang terbaik pada hambaNya yang sungguh-sungguh meminta  pada-Nya meski tidak sesuai yang diinginkan. 

Sikap optimis haruslah selalu menyertai jiwa seorang mukmin hingga ajalnya. Nabi Muhammad bersabda, "Janganlah kalian meninggal dunia melainkan dirinya tetap berprasangka baik kepada Allah azza wa jalla." (HR. Muslim).

Imam Al-Ghazali memiliki konsep raja’ sebagai cara menangani gangguan kecemasan dan keputus asaan. Dalam kitab Ihya’ Ulumuddin, al-Gahzali menjelaskan hakikat raja’ ialah menunggu yang disukai menjadi nyata.

Raja’ akan menghasilkan hal (keadaan optimisme) percaya bahwa Allah tidak akan memberikan musibah melampui batas kemapuan hamba- Nya  dan Allah akan memberikan  balasan yang dijanjikan  Allah, ketika hambaNya sanggup bertaqwa kepada-Nya.

Optimisme akan menggerakkan kebaikan, ketaatan, giat dalam menjauhi larangan Allah dan meninggalkan kemaksiatan.

Wallohu a’lambishhshawab

(H Nuchasin M Soleh)