Mengendalikan Hawa Nafsu
Foto :

IMAM al Ghazali mengatakan yang paling besar di bumi ini bukan gunung dan lautan, melainkan hawa nafsu.

Manakala manusia gagal dalam mengendalikan hawa nafsu akan menjadi penghuni neraka.

Boleh jadi ketika kita melakukan sesuatu  baru menyadari belakangan menyesali yang telah dilakukan itu keliru karena tidak dapat mengendalikan hawa nafsu.

Agama mengajarkan ketika seseorang menghadapi suatu masalah, sebelum melangkah dituntut cermat membuat keputusan tepat yang diridhai Allah mengacu syariat dan akal sehat, mempertimbangkan manfaat dan mudaratnya, tidak ragu  mempertimbangkan untung ruginya bagi dirinya dan orang lain.

Orientasinya pada kesadaran bahwa Allah yang menentukan balasan untuk dunia dan akhirat.

Sabar menanti adanya kelapangan adalah solusi paling ampuh dalam menghadapi masalah, bukan dengan mengeluh.

Imam Syafi’i pernah berkata dalam bait syairnya “Bersabarlah yang baik, maka niscaya kelapangan itu begitu dekat. Barangsiapa yang mendekatkan diri pada Allah untuk lepas dari kesulitan, maka ia pasti akan selamat. Barangsiapa yang begitu yakin dengan Allah, maka ia pasti tidak merasakan penderitaan. Barangsiapa yang selalu berharap pada-Nya, maka Allah pasti akan memberi pertolongan”.

Sebenarnya setiap orang diciptakan dengan potensi dalam dirinya untuk menciptakan keadilan, ketenteraman, keamanan, kesejahteraan, persatuan dan hal-hal baik lainnya tetapi hawa nafsu, syahwat dan emosi tak terkendali dapat menghambat potensi itu muncul kepermukaan.   

Imam Al Ghazali menyebut ada tiga bentuk perlawanan manusia terhadap hawa nafsu.

Pertama nafsu muthmainnah (nafsu yang tenang), yakni ketika iman menang melawan hawa nafsu, ia segera sadar dan gelisah atas perbuatannya yang buruk.

Kedua, nafsu lawwamah (nafsu yang gelisah dan menyesali dirinya sendiri), yakni ketika iman kadangkala menang dan kalah melawan hawa nafsu.

Ketiga, nafsu la’ammaratu bissu’ (nafsu yang mengajak kepada keburukan), yakni ketika iman kalah melawan hawa nafsu, sehingga lebih banyak berbuat keburukan daripada kebaikan.

Iman, ilmu dan amal dengan banyak beribadah, berdoa, beramal shalih, berpikir positip dan menjauhi maksiat merupakan rangkaian tak terpisahkan dalam pengendalian hawa nafsu dan penentuan keputusan.

Akal secara umum menyuruh manusia kepada kebaikan, namun suatu saat bisa ragu-ragu tidak mampu mengidentifikasi dan menetapkan pilihan.

Dalam situasi seperti itu Imam Al Ghazali menganjurkan untuk berpihak dan memilih sesuatu yang menyusahkan daripada yang menyenangkan.

Biasanya hal-hal yang menyusahkan itu justru untuk kebaikan sehingga butuh pengurbanan. Surga dipagari oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka diliputi oleh hal-hal yang menyenangkan.

Sesungguhnya Allah menyayangi umat-Nya yang selalu sabar dalam setiap kondisi yang Allah  berikan.  

"...Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri....." (QS. Ar Rad: 11). 

Wallohu a’lambishhawab

(G Nuchasin M Soleh)