Mencari Keteladanan
Foto :

DALAM kehidupan bermasyarakat kita sering butuh seseorang yang bisa dijadikan panutan, keteladanan. Setidaknya dari keteladanannya itu mengingatkan kita untuk melakukan amalan kebaikan untuk keselamatan di dunia dan akhirat.  

Manusia teladan paling agung dikalangan umat Islam adalah Rasulullah Muhammad yang berakhlak mulia, kemudian juga para sahabat Rasulullah merupakan generasi yang memiliki keteladanan hebat karena mereka adalah generasi  yang pernah langsung berdialog, berbincang bahkan turut berdakwah bersama Rasulullah dalam menebar ajaran Islam dan mengetahui secara pasti bagaimana akhlak dan perilaku Rasulullah dalam keseharian.

Abdullah bin Mas’ud sorang sahabat Rasulullah berkata:”Barangsiapa hendak mengambil teladan, teladanilah orang-orang yang berhati paling baik di kalangan para sahabat Nabi semasa hidupnya.

Ilmu mereka mumpuni, mereka adalah orang-orang yang dipilih oleh Allah Ta’ala untuk mendampingi Nabi guna menyampaikan ajaran agama-Nya. Karena itu tirulah akhlak mereka tempuhlah jalan-jalan mereka”.

Beberapa orang sahabat terdekat Nabi yang memiliki kepribadian yang menjadi teladan seperti Abu Bakar Siddiq yang jujur, Umar bin Khattab yang tegas dan adil, Usman bin Affan yang pemurah, Ali bin Abi Thalib yang cerdas dan berwawasan luas dan juga para sahabat lainnya semasa hidupnya. 

Dalam kitab “Betapa Rasulullah Merindukanmu” dikisahkan suatu ketika Abdullah bis Mas’ud salah seorang sahabat Nabi yang berperawakan kecil dan kurus memanjat pohon untuk mengambil ranting kayunya sebagai siwak. (pembersih gigi).

Tak diduga  tiba-tiba angin bertiup kencang menyebabkan jubahnya tersingkap sehingga terlihat betisnya yang kecil itu.

Melihat kejadian yang dianggapnya lucu itu sahabat lain yang melihat tertawa. Tawa itu didengar oleh Rasulullah dan menanyakan mengapa tertawa.

"Apa yang membuat kalian tertawa?”  “Kami baru melihat kalau betis Ibnu Mas’ud itu kecil,” kata salah seorang sahabat seraya menahan tawanya.

Mendengar jawaban itu Rasulullah tidak tersenyum, bahkan memerintahkan agar mereka diam tidak tertawa.

“Ketahuilah, demi Allah! Sesungguhnya di sisi Allah kedua betis Ibnu Mas’ud itu lebih berat timbanganya daripada Gunung Uhud,” kata Rasulullah dan para sahabat pun terdiam.

Pada kesempatan lain Rasulullah bersabda: "Janganlah kalian mencela seseorang pun di antara para sahabatku. Sesungguhnya andai ada salah satu diantara kalian berinfak emas sebesar Gunung Uhud maka itu tidak akan bisa menyaingi infak salah seorang di antara mereka yang hanya sebesar genggaman tangan atau bahkan setengahnya saja.”

Demikianlah pujian Rasulullah terhadap para sahabatnya yang menyintai, menghormati, yang selalu setia mendampingi beliau. Para sahabat Rasulullah adalah kaum yang terpuji, melebihi dari apa-apa yang ada di dunia ini.

Wallohu a’lambishshawab

(H Nuchasin M Soleh)