Cinta Nabi
Foto :

CINTA pada Allah dan Rasulullah adalah cinta murni karena iman. Akan semakin dalam cinta kita pada Allah dan Rasulullah manakala kita lebih dalam mengenal, mengetahui bahkan ingin menghadirkan yang kita cintai dalam fikir dan hati kita.

Sejatinya tidak hanya pada momen tertentu seperti pada bulan Rabiul Awwal bulan kelahiran Nabi  kita mengenang betapa dahsyatnya perjuangan Rasulullah menyampaikan risalah kebenaran Islam 14 abad silam, namun setiap saat hingga akhir hayat kita sepantasnya selalu mengenangnya.

Rasulullah itu Al-Amin-orang yang sangat dipercaya, adil tak pernah berkhianat selalu mengedepankan segala tindakan ucapannya dengan akhlakul karimah pada semua orang, kawan maupun yang memusuhi beliau.

Sungguh Rasulullah itu sangat mencintai umatnya, sepantasnyalah sebagai umatnya mencintai Rasulullah. Suatu ketika Rasulullah berkata pada sahabatnya:”Aku ingin sekali bertemu dengan saudara-saudaraku.” Para sahabat bertanya, “Bukankan kami ini adalah saudara-saudaramu?”

Rasulullah menjawab, “Kalian adalah sahabatku. Tetapi saudara-saudaraku adalah orang-orang yang beriman kepadaku sedangkan mereka belum pernah melihat aku.” (HR. Ahmad).

Sebagai rasa syukur kita pada Rasulullah, diluar sholat pun kita berupaya banyak bershalawat kepada Rasulullah.

Allah berfirman: "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya." (QS. Al-Ahzab':56).

Ustadz Abdul Somad pernah mengatakan peringatan maulid nabi merupakan sarana untuk mengingatkan kembali umat manusia akan makna-makna yang mulia tentang Rasulullah.

“Saya yakin bahwa hasil positif di balik peringatan maulid adalah mengikat kembali kaum muslimin dengan Islam dan mengeratkan mereka kembali dengan sejarah nabi Muhammad agar mereka bisa menjadikan Rasulullah  sebagai suri tauladan. 

Meski kertika di jaman Nabi tidak ada acara memperingati Maulid Nabi Muhammad yang jatuh pada 12 Rabiul Awal penanggalan Hijriah namun pada masa pemerintahan tiga khalifah Dinasti Abbasiyah, yaitu pada masa Khalifah al-Mahdi bin Mansur al-Abbas , Khalifah al-Hadi dan Khalifah al-Rasyid (putra) perayaan Maulid Nabi sudah ada.

Seorang jenderal dan pejuang muslim Kurdi dari Tikrit (daerah Utara Irak ) yakni Salahuddin Ayyubi (Masa kekuasaan 1174 M– 1193 M) mengimbau umat Islam di seluruh dunia agar hari lahir Nabi Muhammad  pada 12 Rabiul Awal diperingati.

Salahuddin ingin agar perayaan maulid nabi menjadi tradisi bagi umat Islam di seluruh dunia dengan tujuan meningkatkan semangat juang, bukan  untuk perayaan ulang tahun, namun agar keteladanan, ajaran, dan kepemimpinan mulia Rasulullah bisa terus menginspirasi umat Islam.

Wallohua’lambishshawab.

Nuchasin M Soleh)