Yang Patut Ditiru dari Rasulullah
Foto :

RASULULLAH sangat dicintai para sahabatnya karena hatinya lembut, santun. Sikap dan perlakuan Rasulullah terhadap para sahabatnya juga sangat baik.

Boleh jadi ketika kita menyatakan mencintai Rasulullah maka setidaknya kita menyontoh baik tutur katanya, sikap dan yang dilakukan Rasulullah.

Setiap ada seseorang yang mengajak bicara dengan Rasulullah, beliau tidak akan memalingkan mukanya, tidak pernah memotong pembicaraan seseorang, kecuali jika ia telah melampaui batas. Rasulullah selalu mendengarkan sahabatnya ketika sedang berbicara.

Setiap Rasulullah berjabat tangan dengan seseorang, beliau tidak akan melepaskan genggaman tangannya kecuali orang yang berjabat tangan tersebut melepaskan genggaman tangannya terlebih dahulu.

Biasanya Rasulullah yang mengawali mengucapkan salam dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengan setiap orang yang ditemui.

Suatu ketika ada salah seorang datang ke majlis Rasulullah yang penuh sesak oleh para sahabat. Karena tak ada tempat duduk di dalam maka tamu itu duduk dekat pintu tanpa alas duduk.

Menyaksikan itu Rasulullah melipat alas rida’ beliau dan memberikan alas duduk itu kepada tamunya itu seraya berkata: “Duduklah di atas rida’ ini.”  

Tamunya itu mengambil rida’ tersebut, namun tidak ia gunakan untuk duduk melainkan menciumnya dan menempelkan rida’ itu kemukanya sendiri sambil menangis.

Kemudian ia kembalikan rida’ tersebut kepada Rasulullah seraya berkata: “Saya tidak akan duduk di atas rida’ Rasulullah. Semoga Allah SWT memuliakanmu seperti halnya engkau telah memuliakan aku ya Rasulullah."

Maka Rasulullah pun bersabda: “Jika datang kepada kalian seseorang yang mulia di antara kaumnya, maka muliakanlah dirinya.”

Setiap ucapan Rasulullah sesuai dengan perbuatannya sehingga diyakini kebenarannya. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS Al Ahzab:21). 

Rasulullah memimpin umatnya tidak hanya dengan akal dan fisiknya melainkan dengan hatinya, menyejukkan, selalu menebar kasih sayang kepada sesame, tidak membedakan kaya miskin meski berbeda agama. 

Rasulullah pernah bersabda, sebaik-baik pemimpin adalah yang dicintai dan mencintai orang lain, berkorban untuk orang lain bukan mengorbankan orang lain.

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)