Maslahat Bertakziah
Foto :

DALAM Islam mengucapkan innalillahi wa inna ilaihi rajiun merupakan salah satu ucapan ketika mendengar suatu musibah termasuk berita kematian. “(yaitu) orang-orang yang ketika ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun”.” (QS. Al Baqarah ayat 156).

Meninggal dunianya seseoramg merupakan salah satu musibah yang membuat seseorang sangat terpukul. Kehilangan sesuatu yang dicintai bukanlah hal yang mudah untuk dilalui begitu saja, butuh kekuatan dan kesabaran yang luar biasa.

Salah satu kewajiban bagi tiap orang Muslim terhadap Muslim lainnya yang terkena musibah karena ada yang meninggal dunia yaitu takziah atau istilah akrabnya  melayat. Berkunjung kerumah duka membantu dan menghibur keluarga yang ditinggalkan serta mendoakan orang yang meninggal.

Takziah dilakukan sebelum jenazah dikuburkan. Takziah secara bahasa artinya menguatkan atau menghibur. Sedangkan secara istilah, takziah merupakan sarana untuk seseorang agar sabar dalam menghadapi musibah yang menimpanya dan mendoakan jenazah.

Pahala orang bertakziah sama seperti orang yang dengan sabar mendapatkan musibah. Rasulullah bersabda: “Siapa saja yang bertakziah kepada orang yang terkena musibah, maka dia akan mendapat pahala seperti orang yang mendapat musibah tersebut.” (HR. At Tirmidzi dan Al Baihaqi).

Rasulullah senantiasa bertakziah kerumah orang yang tengah berduka. Rasulullah bersabda:”Sesungguhnya Allah akan menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranSesungguhnya Allah akan menolong seorang hamba selama hamba tersebut menolong saudaranya" (HR. Abu Dawudya, (HR. Abu Dawud).

Takziyah memberikan kemaslahatan kepada kedua belah pihak baik pentakziyah maupun keluarga yang terkena musibah.  Dengan takziyah setidaknya ingat akan adanya kematian, dapat meringankan beban musibah yang diderita keluarga yang ditinggalkan, memotivasinya agar bersabar dan ridha menghadapi ketentan dan qadar.

Sebagian jumhur ulama menghukumi makruh  apabila takziyah dilakukan lebih dari tiga hari  seperti disabdakan Rasulullah: “Tidaklah dihalalkan bagi seorang wanita yang beriman kepada Allah dan hari Kiamat, untuk berkabung lebih dari tiga hari, terkecuali berkabung karena (ditinggal mati) suaminya, yaitu selama empat bulan sepuluh hari. (HR Bukhari).

Biasanya setelah tiga hari suasana hati keluarga yang terkena musbibah sudah lebih tenang sehingga jangan sampai dibangkitkan kembali dukanya karena ada yang takziyah. Namun sebagian ulama mazhab Syafi’iyah tak memberikan batasan waktunya karena tujuan dari takziyah mendoakan, memotivasinya agar bersabar asalkan tidak melakukan ratapan, dan lainnya yang dilarang syariat. 

Rasulullah bersabda:”Amalan yang paling utama adalah menyenangkan orang mukmin, memberi pakaian untuk menutup auratnya, mengenyangkan kelaparannya atau memenuhi kebutuhannya.” 

Rasulullah juga bersabda:” Tak ada seorang mukmin yang mentakziyahi (menghibur) saudaranya, karena suatu musibah, kecuali Allah akan memakaikannya diantara pakaian-pakaian kemuliaan pada hari kiamat”. (HR. Ibnu Majah). Wallohu  a’lambishashawab.

(H Nuchasin M Soleh)