Kekayaan Itu di Hati
Foto :

IMam Al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin mengatakan:”Kebahagiaan adalah ketika seseorang mampu menguasai nafsunya. Kesengsaraan adalah saat seseorang dikuasai nafsunya.”

Nafsu merupakan bagian ciptaan Allah yang melekat pada diri manusia. Dengan berbekal nafsu manusia dapat menjalankan kehidupannya memenuhi kebutuhannya seperti makan, minum, tidur, menikah, dan lain sebagainya.

Secara alamiyah nafsu tidak selamanya yang berkaitan dengan perilaku buruk atau jahat tapi juga perilaku baik yang sesuai syariat.

Islam mengajarkan manusia agar dapat menguasai nafsunya dengan memegang teguh perilaku untuk beramal kebaikan tidak melakukan perbuatan buruk yang menyimpang dari  ketentuan Allah dan sunnah Rasulullah.

Tinggal memilih nafsu untuk berperilaku kebaikan agar bahagia di dunia dan akhirat atau melanggar syariat mendapat ganjaran buruk didunia dan akhirat.

Untuk menguasai nafsu agar tidak melanggar syariat memang tidak mudah. Sepulang dari perang Badar, Rasulullah bersabda:”Kalian semua pulang dari sebuah pertempuran kecil dan bakal menghadapi pertempuran yang lebih besar. Lalu ditanyakan kepada Rasulullah, ‘Apakah pertempuran


akbar itu, wahai Rasulullah?’ Rasul menjawab, ‘jihad (memerangi) hawa nafsu’.”

Nafsu bisa menjadi sahabat dan musuh dalam diri manusia. Ketika lalai menjauhi syariat  muncullah perilaku buruk seperti iri, dengki, tamak, dusta, khianat, memakan penghasilan haram dan perilaku buruk lainnya.

Seseorang yang telah dapat mengendalikan nafsunya yakni orang  berakal yang mengetahui halal dan haram sesuai syariat, ketika melakukan sesuatu dalam urusan dunia tidak melampaui batas.

Allah SAW berfirman: “Ada pun orang yang melampaui batas dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya Nerakalah tempat tinggalnya. Dan ada pun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya maka sesungguhnya Surgalah tempat tinggalnya.” (QS. An-Nazi’at: 37-41). 

Islam tidak menentang manusia untuk memiliki harta dan kekayaan serta upaya untuk membangun kehidupan yang lebih baik. Allah Maha Mengetahui naluri dan keinginan yang beragam dengan segala dimensi fisik dan ruh dari setiap manusia. Namun kekayaan yang terbaik menurut Islam adalah akhlak karena menyempurnakan akhlak adalah salah satu tujuan diutusnya Rasulullah Muhammad di dunia.

Akhlak dalam Islam adalah bagian kekayaan batin manusia sedangkan kebutuhan materi adalah bagian dari kekayaan lahiriah manusia yang dapat mengantarkannya mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat. Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda, “Kekayaan bukanlah banyak harta benda, akan tetapi kekayaan adalah kekayaan hati.” (HR Bukhari Muslim).

Dalam Islam orang yang merasa cukup dengan pemberian Allah, tidak terlalu berambisi mengejar urusan dunia yang dapat melupakan akhirat, maka dialah orang yang kaya. Hatilah yang menentukan seseorang menjadi senang atau sengsara, bahagia atau sedih.

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M SolehSoleh)