Kepemimpinan Rasulullah
Foto :

SEPERTINYA kini tidak mudah mencari sosok pemimpin seperti  Rasulullah, pemimpin yang dapat memimpin dirinya sendiri, mencintai dan dicintai umatnya, mendoakan kebaikan, mau berkorban untuk umatnya, tidak berpikir apa yang akan beliau dapatkan melainkan apa yang bisa diberikan untuk umatnya. 

Rasulullah memimpin dirinya sendiri sebelum memimpin orang lain. memimpin penglihatannya, pendengarannya, tutur katanya, nafsunya, keinginannya, dan memimpin keluarganya dengan cara terbaik.

Kini banyak pemimpin yang tak mengenal dan tak mau menelisik dirinya sendiri, yang dibutuhkan pemimpin yang memiliki ilmu yang mumpuni agar disukai dan didukung bawahannya, yang dipimpinnya, masyarakatnya atau rakyatnya.

Benarlah seperti kata Rasulullah 14 abad silam. Sabda Rasulullah: ”Sesudahku nanti akan ada pemimpin-pemimpin yang berdusta dan berbuat zalim, siapa yang membenarkan kedustaannya dan membantu kezalimannya, maka ia tidak termasuk golongan dari umatku dan aku juga tidak termasuk darinya dan ia tidak akan datang ketelaga (yang ada di surga).” (HR. Nasa’i dari Ka’ab).

Kejujuran merupakan pedoman utama seorang pemimpin, sebagai tolok ukur kepercayaan rakyat, cermin kemuliaan pekertinya di dunia dan akhirat. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertawakkallah kepada Allah, dan hendaklah kamu bersama orang-orang yang jujur.” (QS. At-Taubah: 119).

Kepiawaian ilmu kepememimpinannya tak akan mudah goyah dipengaruhi oleh bawahannya, para pembantunya yang ingin menboba mencari keuntungan untuk pribadinya. Tegas ketika melihat ada umat yang keliru dalam menjalankan syariat, tegas ketika melihat  kecurangan yang akan atau telah dilakukan oleh bawahannya, tapi Rasulullah juga lemah lembut, penyayang,  penyantun  dan pemaaf.

Rasulullah memimpin umatnya tidak hanya dengan akal dan fisiknya melainkan dengan hatinya. Rasulullah tidak banyak menyuruh tapi dengan memberikan contoh yang baik. Rasulullah juga tidak melarang orang lain sebelum melarang dirinya sendiri. Bahkan Rasulullah akan menghukum puterinya sendiri bila melakukan kesalahan. 

Rasulullah berhati-hati dengan tutur katanya sehingga tidak pernah berbicara kecuali kata-kata yang  benar, indah, dan padat bermakna tidak ingin mendapat pujian. Rasulullah pun memimpin nafsunya, keinginannya, dan memimpin keluarganya  sehingga mampu memimpin dunia.

Setiap ucapan Rasulullah sesuai dengan perbuatannya. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (QS Al Ahzab:21).

Boleh jadi pemimpin yang berakhlak buruk, tidak adil, kepribadiannya jauh dari nilai-nilai agama dan akhlak mulia akan dijauhi rakyatnya, kecewa, resah, tidak sejahtera. 

Rasulullah tidak banyak menyuruh tapi memberikan contoh yang baik, tidak  melarang orang lain sebelum melarang dirinya sendiri, serasi setiap kata dan perbuatannya. Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)