Muraqabah
Foto :

SESEORANG melakukan sesuatu yang terlihat atau tidak terlihat oleh orang lain, sedangkan bagi Allah keduanya sama-sama diketahui-Nya. Allah selalu mengetahui ucapan, perbuatan, keinginan manusia baik yang disembunyikan, dirahasiakan atau yang terang-terangan.

Sesungguhnya manusia itu hakikatnya selalu berhasrat kepada kebaikan, menjunjung nilai kejujuran dan keadilan, meski tidak ada orang yang melihatnya.

Namun setan akan selalu berusaha menyesatkannya sehingga manusia harus selalu waspada dan mawas diri.

Manusia dalam hidupnya hendaknya memaksa untuk muraqabah (merasa diawasi) perilakunya dan mawas diri setiap saat sehingga mendorong dirinya senantiasa rajin melaksanakan perintah dan menjauhi larangan-Nya.

Menyadari bahwa malaikat akan selalu memantau dan Allah akan selalu mengetahui baik  ucapan yang dilahirkan maupun yang disembunyikan, yang dusta maupun yang sebenarnya, karenanya ucapan dan perbuatan harus dijaga sebaik-baiknya.

Allah Maha Mengetahui, Maha Mendengar, Maha Melihat tak akan ada yang dapat ditutupi oleh manusia. “Dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, dan bahwasanya usahanya itu kelak akan diperlihatkan (kepadanya).

Kemudian akan diberi balasan kepadanya dengan balasan yang paling sempurna, dan bahwasanya kepada Tuhanmulah kesudahan (segala sesuatu), dan bahwasanya DIA yang menjadikan orang tertawa dan menangis, dan bahwasanya DIA yang mematikan dan yang menghidupkan.” (QS. An-Najm: 39-44).

Muraqabah secara etimologi (bahasa) berasal dari bahasa Arab yaitu penjagaan atau pengawasan. Sedangkan menurut istilah muraqabah adalah perasaan yang merasa selalu diawasi atau selalu ada dalam pengawasan Allah Ta’ala..

Muraqabah adalah pengaplikasian dari Ihsan. “Ihsan adalah engkau menyembah Allah seakan-akan engkau melihatnya. Jika belum mampu melihatNya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.” (HR: Muslim, Turmudzi, Abu Daud, dan Nasai).

Menurut Imam Al Ghazali  untuk mencapai muraqabah melalui dua tahap. Pertama, ketika seseorang mencapai ma’rifat, menyadari dan meyakini bahwa Allah SWT selalu melihat, mengawasi dan mengetahui segala isi hati, amal perbuatan dan yang diusahakan manusia.

Dengan demikian seseorang akan menjadi sibuk memikirkan Allah SWT sehingga bersunguh-sungguh melaksanakan ibadah pada-Nya.

Pada tingkatan berikutnya, seseorang menyadari adanya pengawasan dari Allah mengharapkan segala amal perbuatan dan ibadahnya mengharapkan keridhaan-Nya.

Muraqabah pada tingkatan ini mendorong seseorang untuk melakukan amalan qalbiyah (hati) dan amalan aqliyah (pikiran) berharap untuk memperoleh ridha-Nya.

Wallohua’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)