Ilmu dan Guru
Foto :

IMAM Syafii salah satu dari Imam Madhab yang mumpuni dalam ilmu fiqih ketika masih menuntut ilmu, pernah mengeluh kepada gurunya, bertanya: “Wahai, Guru. Mengapa ilmu yang sedang kukaji ini susah sekali memahaminya dan bahkan cepat lupa?” Sang guru mengatakan bahwa ilmu itu ibarat cahaya.

Ia hanya dapat menerangi gelas yang bening dan bersih. Ilmu akan terhalang masuk dalam diri manusia yang hatinya keruh dan banyak maksiat. Bila ingin agar ilmu itu bisa menjadi ladang amal shalih, maka hati selalu dalam keadaan bersih.

AA Gym ilmu disebut bermanfaat apabila mengandung mashlahat – memiliki nilai-nilai kebaikan bagi sesama manusia dan alam , selanjutnya ilmu yang dimiliki menjadikan kedekatannya  kepada Allah.

Ilmu yang berguna ialah yang dapat menyinari hatinya agar tidak tertutup, yang dapat mendekatkan manusia kepada Allah dan menjauhkannya dari sifat sombong.

Pendidikan memberikan andil besar dalam memberi solusi terhadap krisis kemanusiaan. Dari pendidikan diharapkan dapat menghasilkan manusia yang berilmu, jujur, bersemangat, pekerja keras, tidak malas, berani, kreatif, cinta kebersihan, toleran dan sebagainya.

Pendidikan untuk meningkatkan keseimbangan jiwa individu agar menjadi manusia bagi dirinya sendiri. Dalam hal ini guru sangat berperan dalam mengembangkan pendidikan dan akhlak agar usia yang diberikan Allah pada manusia tidak sia-sia.

Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa seorang guru adalah orang dengan kedudukan yang besar di kerajaan langit. Ia juga mengumpamakan seorang guru seperti matahari, menerangi dan juga memberi kehidupan.

Ia juga menyebut guru atau pendidik sebagai Maslikhul Kabir karena mampu menyelamatkan murid dari kerasnya hidup di dunia dan kejamnya siksa neraka. Bahkan disebutkan pula bahwa jasa guru lebih banyak jika dibandingkan jasa orangtua.

Dalam kitabnya Ihyaa Ulumuddin, Imam Al-Ghazali menyebutkan bahwa guru yang baik adalah mereka yang cerdas juga sempurna akal dan sehat fisiknya.

Beberapa sifat khusus yang harus dimiliki guru dalam mengajar yakni zuhud, ikhlas dalam mengajar, mudah memaafkan, paham akan tabiat muridnya, memiliki pribadi yang bersih, sikapnya selayaknya seorang bapak atas anaknya, serta memiliki penguasaan ilmu yang baik.

Menurut Al Ghazali amal perbuatan, perilaku, akhlak dan kepribadian sesesorang pendidik lebih penting daripada ilmu pengetahuan yang dimilikinya.

Karena kepribadian seorang pendidik akan diteladani dan ditiru oleh anak didiknya, baik secara sengaja maupun tidak sengaja dan baik secara langsung maupun tidak langsung. Seorang pendidik ibarat tongkat dengan bayang – bayangannya. Bagaimanakah bayang – bayang akan lurus, apabila tongkatnya saja bengkok.

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)