Jangan Mudah Mencela
Foto :

BOLEH jadi banyak orang ingin agar seseorang sempurna dalam bertutur kata dan perilaku, namun tak mungkin karena manusia memiliki kekurangan dan kelemahan kecuali para Nabi.

Ada kalanya seseorang saat melihat orang lain melakukan kesalahan langsung dicela tanpa melihat sebab musabab latar belakang kesalahan yang dilakukan. 

Kalau hal itu menjadi kebiasaannya tentu orang akan menjauhinya. Seorang suami dengan mudahnya mencela masakan istrinya tidak enak. Padahal Islam mengajarkan umatnya untuk berbuat adil tidak mudah menyalahkan, mencela, mengkritik orang lain tanpa alasan.

‘Aisyah istri Rasulullah menceritakan perilaku Rasulullah: Rasulullah sama sekali tidak pernah mencela makanan, jika berkenan ia makan, jika tidak ia tinggalkan” (HR al Bukhari, Muslim).  

Rasulullah tidak pernah mempersalahkan mengapa makanan itu tidak enak.

Anas sahabat Rasulullah yang kesehariannya membantu keperluan Rasulullah di rumah Rasulullah mencerterakan:”Sungguh aku sudah melayani Rasulullah sembilan tahun. Selama itu belum pernah kudengar beliau mengomentari pekerjaanku, “mengapa engkau lakukan ini dan itu”. Beliau tidak mencela pekerjaanku. Demi Allah beliau sama sekali tidak pernah berkata “Aduh”.

Pernah Rasulullah melihat sesorang ketika sholat menengadahkan mukanya keatas, seharusnya mukanya melihat kebawah ketempat sujudnya. Di hadapan para sahabat Rasulullah bercerita namun tidak menegur secara langsung dengan menyebutkan nama orang yang melakukan kesalahan dalam sholatnya itu. Beliau hanya bersabda:”Jangan-jangan mata mereka ada yang menyambar” (HR Al Bukhari).

Dari Abdullah bin Mas’ud, Nabi bersabda: “Sebaik-baik manusia adalah masaku, lalu orang-orang sesudah mereka, kemudian orang-orang sesudah mereka. Selanjutnya datang kaum-kaum yang kesaksian salah seorang mereka mendahului sumpahnya dan sumpahnya mendahului kesaksiannya.’ (HR al-Bukhari dan Muslim).

Dari Abu Sa’id Al Khudriy berkata; Nabi bersabda: ‘Janganlah kalian mencela sahabat-sahabatku. Seandainya salah seorang dari kalian menginfakkan emas sebanyak Gunung Uhud, tidak akan ada yang menyamai satu timbangan (pahala) seorang pun dari mereka, juga tidak akan sampai setengahnya.” (Muttafaqun alaih).

Para ulama sepakat bahwa mencela sahabat beliau haram hukumnya. 

Seorang salaf berkata: "Apabila sampai kepadamu perkataan dari saudaramu berupa hinaan yang menyakitkan hatimu, maka janganlah engkau risau. Seandainya perkataan itu benar, maka itu adalah hukuman yang disegerakan bagimu daripada mendapat hukuman di akhirat. Dan seandainya perkataan itu tidak benar, maka itu akan menjadi pahala bagimu."  

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)