Minta Maafnya Sahabat Nabi
Foto :

RASUULULLAH brsabda: ”Dari Anas  bin Malik bahwa Rasulullah pernah bersabda:”Setiap manusia sangat rentan bersalah,  dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah orang yang tekun bertaubat.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah).”

Setiap kita pasti memiliki permasalahan dan kesalahan baik yang kita sadari atau tidak terhadap orang lain bahkan kesalahan dan dosa pada Allah Ta’ala. Namun karena egonya karena hawa nafsu yang telah menguasai diri tidak mau mengakui kesalahannya.

Berbeda dengan dikalangan para sahabat Rasulullah ketika menyadari kesalahannya takb tenang hidupnya selama belum menjelaskan kesalahannya dan meminta maaf.

Abu Dzar seorang sahabat Rasulullah pernah bertengkar dengan Bilal sang muazdin padahal keduanya sangat bersahabat.

Suatu ketika Abu Dzar berselisih dengan Bilal, tanpa disadari Abu Dzar mengucapkan: “Wahai anak orang hitam”. Tidak terima dikatakan seperti itu, Bilal mengadu kepada Rasulullah.

Rasulullah pun memanggil Abu Dzar dan bertanya:’’Apakah engkau mencaci maki seseorang”. Rasulullah tak menyebutkan siapa seseorang yang dimaksudkan.

Abu Dzar menjawab:” Ya Rasulullah”.  Rasulullah bertanya lagi:”Apakah engkau menyebut-nyebut ibunya?” Abu Dzar berkata:”Wahai Rasulullah, siapapun mencaci maki orang, nama ayah atau ibunya akan dibawa-bawa’’. Rasulullah bersabda lagi:”Kalau begitu dalam dirimu masih ada warisan jahiliyah”.

Mendengar kata Rasulullah itu raut muka Abu Dzar berubah seketika dan bertanya:”Apakah saat itu dalam diriku ada kesombongan”. Jawab Rasulullah singkat;” Ya”. Abu Dzar tertunduk, kemudian

Rasulullah bersabda:’Mereka semua itu saudaramu. Allah Subhanahu Wata’ala menjadikan mereka di bawah tanggunganmu. 

Barang siapa menanggung saudaranya, berarti ia harus memberikan makanan dari yang ia makan, memberikan pakaian dari yang ia pakai dan tidak membebaninya sesuatu yang ia tidak mampu, maka ia harus membantunya’.

Saat itu pula Abu Dzar pamit bergegas mencari Bilal. Setelah bertemu Abu Dzar langsung meminta maaf. Abu Dzar bersimpuh di hadapan Bilal, meletakkan pipinya diatas tanah seraya berkata:”Wahai Bilal, injakkan kakimu di pipiku” (Penggalan dari HR Muslim). Demikian cara sahabat Nabi memadamkan api permusuhan agar tidak berkepanjangan.

Sungguh mulianya seseorang yang berjiwa besar tak segan-segan mengakui kesalahannya kemudian meminta maaf. Boleh jadi kita bisa membohongi diri sendiri mengatakan tidak bersalah.

Tapi kita tidak bisa mengelak pengawasan dari Allah dengan malaikat yang setiap saat mencatat sekecil apapun perbuatan dan ucapan yang kita lakukan, pasti terekam. Sebagaimana yang terjadi di abad modern ini dengan CCTV yang bisa merekam kejadian disekitarnya.

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)