Katakan Yang Benar Itu Benar
Foto :

BUYA Hamka pernah mengatakan pribadi yang berani adalah yang sanggup menghadapi segala kesulitan atau bahaya dengan tidak kehilangan akal.

Bukan saja di medan perang, bukan  saja pengail dalam perahu kecil menghadapi ombak dan gelombang  besar yang harus  berani menghadapinya, melainkan setiap insan harus berani menempuh hidupnya.

Keberanian adalah menunjukkan kesanggupan manusia menempuh hidup ,mudah atau sukar.

KH Ahmad Dahlan (1868-1923), pendiri Muhammadiyah mengatakan seorang beriman akan berani menentukan sikap yang disukai oleh Allah Ta’ala,  berani mengatakan hal yang sebenarnya bahwa yang benar itu benar dan yang salah itu salah, tidak ditentukan berapa banyaknya orang yang mempercayai.

Sedangkan bagi seseorang pembohong akan takut ketika ditanyakan hal sebenarnya yang dialami atau yang telah terjadi.

Rasulullah adalah pribadi pemberani tak pernah gentar mengambil keputusan. Rasulullah mengajarkan tentang makna keberanian, berani mengatakan dan melakukan pada saat atau di tempat dan kondisi yang tepat. 

Anas sahabat Rasulullah berkata: "Rasulullah SAW adalah orang yang paling baik, paling dermawan (murah tangan), dan paling berani". (HR. Ahmad).

Rasulullah tegas terhadap penguasa yang dholim, beliau menyatakan tentang jihad. “Jihad yang utama adalah mengatakan kebenaran di hadapan pengguasa dholim” (HR. Abu Daud, Tirmidzi, Ibn Majah).

Berkatalah yang benar walau itu pahit. Yang pahit terkadang bisa menjadi obat bagi yang sakit. Kebenaran tetap diterapkan walau ada celaan dan ada yang tidak suka.

Dari Abu Dzaar, ia berkata, “Kekasihku Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan tujuh hal padaku: (1) mencintai orang miskin dan dekat dengan mereka, (2) beliau memerintah agar melihat pada orang di bawahku (dalam hal harta) dan janganlah lihat pada orang yang berada di atasku, (3) beliau memerintahkan padaku untuk menyambung tali silaturahim (hubungan kerabat) walau kerabat tersebut bersikap kasar, (4) beliau memerintahkan padaku agar tidak meminta-minta pada seorang pun.

Berikutnya (5) beliau memerintahkan untuk mengatakan yang benar walau itu pahit, (6) beliau memerintahkan padaku agar tidak takut terhadap celaan saat berdakwa di jalan Allah, (7) beliau memerintahkan agar memperbanyak ucapan “laa hawla wa laa quwwata illa billah” (tidak ada daya dan upaya kecuali dengan pertolongan Allah), karena kalimat tersebut termasuk simpanan di bawah ‘Arsy.” (HR. Ahmad).

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)