CERMIN akan memantulkan bentuk dan warna benda yang tercermin didepannya. Kemarahan seseorang pun dapat tercermin pada wajah dan matanya yang memerah.

Kekuatan kemarahan terletak dalam lubuk hati merayap melalui syaraf dalam tubuh sehingga terlihatlah cerminan kemarahan di wajahnya.

Imam Alghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menulis setiap manusia berbeda dalam menanggapi sifat kemarahannya. Ketika menghadapi sesuatu yang tidak disukai seseorang bisa marah. 

Ada yang acuh tak acuh kemudian kemarahan itu sirna, ada yang melalui proses mengendalikannya kemudian kemarahannya reda namun ada orang yang berlebihan reaksinya ketika datang kemarahannya.

Menurut Imam Al Ghazali, untuk meredakan hati yang terlanjur marah hendaknya berupaya kembali berfikir akan ketentuan agama seperti mengingat keutamaan untuk memberikan maaf, keutamaan menahan diri dari kemarahan, menahan diri ketika memperoleh sesuatu yang tidak menyenangkan.

Selain itu juga ingat akan murka Allah apabila kemarahannya itu diteruskan agar hati tergerak kembali mengingat Tuhan.

Rasululah bersabda: “Orang yang paling gagah perkasa diantara kamu semua itu ialah orang yang dapat mengalahkan nafsunya diwaktu marah dan orang yang tersabar diantara kamu semua  itu ialah orang yang suka memaafkan kesalahan orang lain padahal ia kuasa untuk membalasnya,”  (HR.Thabrani dan Baihaqi).

Rasulullah adalah  sebaik-baik contoh, meski orang mencaci maki, melempari dengan kotoran, namun Rasul bersabar dan memaafkannya.

Suatu ketika muka Nabi berlumuran darah dianiaya seseorang, sambil mengusap darah dari mukanya beliau  bersabda: “Ya Allah, ampunkanlah kaumku karena mereka tidak mengetahui.” (HR Imam al-Bukhari).

 “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menafkahkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya, dan mema’afkan (kesalahan) orang. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (QS. Ali Imran: 133-134).

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)