Bertanya Pada Diri Sendiri
Foto :

KETIKA kita tengah duduk iktikaf di masjid, di musholla atau ketika tengah duduk sendiri di teras rumah, duduk didalam mobil atau di pesawat dalam perrjalanan atau dimanapun berada pernahkah kita menelisik bertanya pada diri  sendiri tentang ibadah yang kita  lakukan.

Kita bertanya tentang doa kita, tentang neraka dan surga, tentang masa lalu atau masa depan kita, atau juga bertanya tentang keridhoan Allah atas semua amal perbuatan kita?   

Bertanya pada diri sendiri guna membersihkan diri dari baik buruk yang telah kita lakukan, menghitung untung rugi setiap yang kita lakukan.

Namun sebagai muslim ketika bertanya pada diri sendiri seharusnyalah dengan mengacu kepada Al Qur’an dan hadis Nabi sebagai dasar penilaian, bukan berdasarkan keinginan diri sendiri. 

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertaqwalah kepada Allah (dengan mengerjakan suruhan-Nya dan meninggalkan larangan-Nya), dan hendaklah tiap-tiap diri melihat dan memperhatikan apa yang ia telah diperbuatnya (dari amal-amalnya) untuk hari esok (akhirat). Dan (sekali lagi diingatkan) bertaqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS al-Hasyr: 18).

Sebagai muslim memahami hidup  didunia itu sementara sedangkan hidup yang kekal di akhiat nanti disana ada surga dan neraka sebagai tempat balasan atas amal perbuatan kia selama di dunia.

Kita bertanya pada diri sendiri sudahkah kita tahu betapa dahsyatnya siksa neraka dan yakin akan kenikmatan surga. Yakinkah kita bisa terhindar dari api dan siksa neraka?

Ridha dengan  perbuatan yang  kita lakukan sehingga membuat Allah ridho dan kita juga tidak membenci atau menolak dengan ketetapan takdir dan segala sesuatu yang ditetapkan oleh  Allah.

Ridha Allah yang menyukai hamba-Nya yang menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)