Mengisi Kehidupan Dunia Akhirat
Foto :

ISLAM mengajarkan agar umatnya hidup memenuhi kebutuhan jasmani dan rohani dengan berusaha dan bekerja karena Allah untuk mencari rezeki sebagai bekal hidup didunia dan di akhirat.

Soal rezei menjadi urusan Allah, sebagai manusia hanya diwajibkan untuk selalu berusaha tak berputus asa, bekerja dan tak lupa mengharapkan ridha Allah.

Hasil yang diperolehn untuk memenuhi kebutuhan jasmani  dan rohani yang juga bisa untuk beribadah, seperti sholat, puasa, zakat dan untuk beramal kebaikan lainnya, seperti menyantuni anak yatim.

Bekerja mencari rezeki untuk kebutuhan keluarga tergolong bekerja dijalan Allah (fii sabilillah). Rasulullah bersabda: “Jika ada seseorang yang keluar dari rumah untuk bekerja guna mengusahakan kehidupan anaknya yang masih kecil, maka ia telah berusaha di jalan Allah.

Jikalau ia bekerja untuk dirinya sendiri agar tidak sampai meminta-minta pada orang lain, itu pun di jalan Allah. Tetapi jika ia bekerja untuk berpamer atau bermegah-megahan, maka itulah ‘di jalan setan’ atau karena mengikuti jalan setan” (HR. Thabrani).

Kehidupan di dunia adalah sarana yang akan mengantarkan kehidupan di akhirat dengan demikian dua kehidupan yang berbeda itu harus diisi dengan sebaik-baiknya. 

Allah berfirman yang artinya: “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu yaitu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari kenikmatan duniawi, dan berbuat baiklah kepada orang lain, sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (QS Al Qashash: 77).

Kiranya janganlah melalaikan kehidupan untuk akhirat yang merupakan tujuan untuk kehidupan yang sesungguhnya yang kekal.

Namun kehidupan dunia juga harus diisi dengan sebaiknya meski hanya untuk sementara yang akan berakhir setelah kiamat. Allah berfirman: "......Dan sesungguhnya akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya" (QS. Al-Ankabut: 64).

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)