Agar Bisa Ikhlas
Foto :

ALI Bin Muhammad al-Jurjani (1339-1413 M) dalam bukunya al-Ta'rifât mengemukakan ikhlas adalah tabir antara manusia dengan Allah sehingga malaikat tidak mengetahuinya untuk dia tulis. Setan pun tidak mengetahuinya agar dia tidak merusaknya. Nafsu pun tidak agar dia tidak menyelewengkannya.

Menurut Ali bin Muhammad al-Jurjani ada perbedaan antara ikhlas dan kejujuran. Kejujuran adalah sumber, wujudnya berada sebelum ikhlas karena keikhlasan adalah hasil kejujuran. Keikhlasan tidak dapat mewujud kecuali setelah seseorang melangkah dalam aktivitas.

Dalam konteks agama, makna ikhlas adalah melakukan sesuatu demi karena Allah dan atau sesuai perintah-Nya. Ketika beramal ada yang secara sembunyi dan ada yang diperlihatkan.

Ketika beramal dengan diperlihatkan dengan maksud agar dicontoh oleh yang lain maka hendaklah diiringi dengan rasa ikhlas agar terhindar dari sifat riya ingin mendapatkan pujian. 

”Jika kamu menampakkan sedekah (mu) maka itu adalah baik. Dan jika kamu menyembunyikannya dan kamu berikan kepada orang-orang fakir, maka menyembunyikan itu lebih baik bagimu. Dan Allah akan menghapuskan dari kamu sebagian kesalahan-kesalahanmu, dan Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS Al Baqarah: 271).

Ikhlas itu pekerjaan hati dan pada hatilah menentukan baik buruknya perangai dan perbuatan seseorang. Ikhlas adalah pangkal dari iman seseorang untuk mendekatkan diri mengharap ridha Allah atas segala amal perbuatannya.

Imam Al Ghazali mengatakan ikhlas adalah perbuatan yang dilakukan dengan murni dan bersih untuk memurnikan tujuan terutama dalam beramal ibadah tidak dicampuri noda, riya, kesombongan dan amalan buruk lainnya.

Wallahu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)