Menjadikan Diri Bermanfaat
Foto :

Dalam diri seseorang pasti ada niat dan berharap menjadi orang yang bermanfaat bagi diri dan orang lain setidaknya dirinya berupaya untuk meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat bagi dirinya atau menahan diri dari keburukan yang merugikan diri sendiri dan orang lain.

Sebaik-baik manusia adalah yang bertaqwa dan bermanfaat bagi orang lain. Allah Ta’ala berfirman: “........Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.....” (Qs. Al-Hujurat: 13).

Sementara itu, Rasulullah bersabda:”Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya” (HR. Ath-Thabrani).

Salah satu syarat agar menjadi orang bermanfaat bagi diri sendiri dan orang lain harus memiliki ilmu. 

Imam AL-Ghazali mengatakan ada empat golongan manusia berilmu. Pertama, orang yang tahu bahwa dirinya mengetahui merupakan perilaku orang pintar, memiliki kemapanan ilmu.

Dia mengetahui bahwa ilmu yang didapat harus benar-benar dimanfaatkan untuk umat, merupakan golongan manusia yang paling baik. Ulama termasuk golongan orang yang berilmu ini. 

Ulama mengetahui bahwa ilmu yang didapat harus benar-benar dimanfaatkan untuk umat. Kedalaman pengetahuan (ilmu) nya benar-benar menjadikannya dekat dan takut kepada Allah untuk mengajarkan kebaikan, menentang permusuhan.

Golongan kedua adalah orang yang berilmu namun dia tidak tahu kalau dirinya berilmu. Golongan kedua ini sebenarnya memiliki potensi atau kemapanan ilmu, namun tidak menyadari atau mengoptimalkannya untuk keperluan umat.

Golongan ketiga seseorang yang tidak tahu dan tidak mengetahui kalau dirinya tidak tahu. Mereka adalah golongan yang sedang dalam proses mencari ilmu berusaha untuk mengetahui.

Jenis manusia ini masih tergolong baik karena menyadari kekurangannya meski belum memiliki kapasitas ilmu yang memadai, namun  menyadari  berusaha keras untuk belajar dan mengejar ketertinggalan.

Golongan keempat adalah orang yang tidak tahu tapi merasa dirinya tahu. Orang tersebut tergolong bodoh. Ia selalu merasa tahu, merasa memiliki ilmu padahal ia tidak mengetahui apa-apa. Sehingga, apa yang ia ucapkan tidak memiliki landasan keilmuan yang jelas dan mapan.

Ibnu Umar sahabat Rasulullah berkata ada seorang pria bertanya kepada Rasulullah:  “Manusia (seperti) apa yang paling dicintai Allah”?

Rasulullah bersabda: “Manusia yang paling dicintai Allah adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya, dan amalan paling dicintai Allah adalah rasa gembira yang engkau masukkan ke dalam diri seorang Muslim, engkau hilangkan kesusahannya, atau engkau bayarkan hutangnya, atau engkau hilangkan rasa laparnya, sungguh aku berjalan bersama saudara seiman untuk memenuhi hajatnya lebih aku sukai daripada beri’tikaf di masjid Nabawai ini selama sebulan”. (HR. Ath-Thabrani).

Orang dengan ilmu yang dimiliki kemudian menebarkan manfaatnya sehingga dicintai dan diterima oleh semua kalangan  akan dicintai Allah.

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)