Mimpi Imam Syafi’i Didoakan Nabi
Foto :

IMAM  Syafi’i yang ketika masih remaja pernah bermimpi bertemu Rasulullah itu merupakan salah satu imam madhhab yang ilmunya banyak dijadikan rujukan umat muslim didunia.

Beliau pernah berkata: “Pengetahuan itu laksana binatang buruan dan tulisan itu talinya, maka itu ikatlah buruanmu itu dengan tali yang kokoh. Dari antara kedunguan orang jika ia memburu binatantg rusa, ia meninggalkannya diantara orang ramai dengan terlepas”.

Ketika ada orang bertanya bagaimana cara menuntut ilmu, Imam Syafi’i menjawab:”Bagaikan seorang perempuan yang kehilangan anaknya, padahal ia tidak mempunyai anak selainnya."

Artinya dengan sungguh-sungguh rindu dan cinta untuk mendapatkannya.

Dikisahkan ketika masih remaja Imam Syafi’i pernah bermimpi bertemu Rasulullah. Dalam mimpinya Rasulullah bertanya:”Siapa engkau hai anak?” Imam Syafi’i menjawab:”Saya dari keturunan engkau ya Rasulullah” Rasulullah berkata:”Mendekatlah kepadaku”. 

Imam Syafi’i mendekati Rasulullah kemudian mukanya, mulutnya, bibirnya diraba oleh Rasulullah seraya berkata:”Pergilah engkau, semoga Allah memberkati engkau."

Bagi Imam Syafi’i mimpi bertemu Rasulullah itu merupakan sebuah kunci besar yang dapat membuka segala sesuatu yang tertutup.

Imam Syafi’i nama kecilnya Muhammad lahir di Ghuzah Asqalan di Syam- Palestina pada bulan Rajab 150 H ( 767 Masehi), silsilah keturunan beliau masih ada kaitannya dengan kerabat dari keturunan Rasulullah.

Imam Syafi’i seorang yang sungguh-sungguh cerdas dan semangatnya menunutut ilmu luar biasa. Pada usia 9 tahun telah hafal Al Qur’an dan pada usia 10 tahun telah faham dan hafal kitab “Al Muwaththa,” karangan Imam Maliki.

Pada usianya 15 tahun telah dipercaya mengajarkan ilmunya dan memberikan fatwa di masjidil Haram.

Diriwayatkan beliau termasuk keluarga pas-pasan, namun tak mematahkan semangatnya menuntut ilmu.

"Tidaklah akan mendapatkan kemenangan dalam menuntut ilmu pengetahuan, melainkan orang yang menuntutnya dalam kekurangan,” kata Imam Syafi’i.

Karena tak punya uang buat beli alat tulis, Imam Syafi’i remaja tetap semangat  mencari ilmu. Dicarinya potongan tulang kering dan kertas bekas yang masih ada bagian yang bisa untuk ditulisi untuk mencatatnya. 

Beliau tak ingin meminta-minta pada orang lain agar membantunya  tapi justru sebaliknya mendorong semangat untuk mencari ilmu.

Potongan tulang dan kertas-kertas berisi catatan ilmu dari para gurunya disimpan dalam peti memenuhi kamar tempat tidurnya, hingga untuk merebahkan diri agar bisa tidur pun sulit.

Untuk mengatasi hal itu, beliau bertekad menghafal semua catatan ilmu yang ditulis dalam potongan tulang dan kertas bekas itu.

Satu persatu dihafalnya hingga akhirnya setelah hafal dan dimengerti seluruhnya semua potongan tulang dan kertas bekas dari dalam kamarnya dibuang.

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M)