Memahami Ciptaan Allah
Foto :

KAUM yang tidak mempercayai adanya Allah menuduh alam tidak mempunyai bukti adanya kekuasaan Allah. Padahal Al Qur’an telah banyak menjelaskan pembuktiannya tentang kekuasan Allah atas segala sesuatu yang terjadi di jagad raya ini.

Allah menurunkan air dari langit terasa tawar dan mudah diminum. Allah menururunkan air hujan dan mengalirkan air dari dalam tanah sangat bermanfaat bagi kehidupan manusia, tumbuhan dan hewan.

Manakala terjadi kemarau panjang hingga mengakibatkan kekeringan atau ketika datang musim hujan yang juga bisa menyebabkan terjadinya banjir dirasakan sebagian orang sebagai kejadian yang tidak menyenangkan.

Dari dua macam kejadian alam ini boleh jadi muncul pertanyaan dalam diri kita apakah ini merupakan ujian  atau teguran  dari Allah karena  boleh jadi iman sedang menurun, banyak dosa dan kesalahan.

Setidaknya kita lantas menyadari bahwa musim kemarau, hujan, salju dan lainnya telah membuka mata hati kita bahwa tidak ada kejadian apapun di semesta alam ini yang tidak atas kehendak Allah. Daun-daun yang gugur dari pepohonan pun tak luput dari kehendak Allah. 
 
Allah juga menciptakan air minum bagi bayi manusia dari air susu ibunya dan air susu bagi bayi hewan menyusui.  Sang ibu bayi manusia maupun bayi hewan bukanlah yang memutuskan membuat dan menentukan kadar gizi yang terkandung dalam air susu bagi bayinya melainkan Allah-lah yang membuat karena mengetahui kebutuhan setiap makhluk hidup:  ”Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan......." (QS, Al Baqarah:233).

Penelitian menunjukkan bayi yang diberi ASI berkemungkinan lebih kecil mengidap penyakit jantung. 

lmu pengetahuan mencoba membuat air susu tiruan untuk bayi hewan. Dilakukan percobaan terhadap 20 ekor tikus, 10 ekor diantaranya diberi air susu murni dari tikus sedangkan 10 ekor lainnya diberi air susu buatan.

Hasilnya tikus yang diberi air susu murni berkembang cepat dan sehat, sedangkan yang diberi susu buatan tak berumur panjang, mati.

Wallohu a’lambishshawab.

( H Nuchasin M Soleh)