Islam Memuliakan Perempuan
Foto :

PROF. Dr. Hamka mengatakan Islam mengangkat derajat kedudukan perempuan, mereka 
tidak disia-siakan sama pentingnya dengan laki-laki dalam mengokohkan aqidah dan ibadah bagi 
anak-anak dalam keluarganya.

Di zaman jahiliyah ketika banyak kaum yang menyembah berhala kehadiran anak perempuan dalam keluarga dianggap sebagai petaka sehingga orang tuanya mengubur hidup-hidup anak perempuannya yang baru lahir.

Perempuan mendapat tempat yang mulia dalam 
Islam. Banyak surah -surah dalam Al Qur’an yang 
membicarakan tentang perempuan, di antaranya 
dalam Surat An-Nisa, Surat Ali Imran, Surat Al 
Mujadalah, Surat An Nahl dan Al Ahzab.

Ulama kharismatik yang akrab dipanggil Buya 
Hamka itu mengatakan kaum laki-laki dan perempuan mempunyai tugas yang sama dalam amar ma’ruf nahi munkar.

Perempuan bukan sekedar melahirkan, mengasuh, namun berperan penting dalam kehidupan keluarga, ekonomi, politik, pen￾didikan, agama dan sosial budaya.

Menurut Buya Hamka, ibarat organisasi jika 
suami sebagai pemimpin, maka istri adalah sekretarisnya. Sementara, istri memegang rahasia rumah tangga sehingga baik buruk dalam rumah tangga tidak disebarluaskan kepada orang lain.

Tak hanya sebagai sekretaris, istri juga bagaikan bendahara dalam suatu organisasi, karena ia harus mengatur pendapatan suami untuk kehidupan sehari-hari.

Dalam bukunya “Buya Hamka Berbicara Tentang Perempuan", budayawan dan sastrawan Islam ini mengatakan:”Jika perempuannya baik, baiklah negara, dan jika mereka bobrok, bobrok pulalah negara. Mereka adalah tiang, dan biasanya tiang rumah tidak begitu kelihatan. Namun, jika rumah sudah condong, periksalah tiangnya. Tandanya tianglah yang lapuk.”

Agar bisa terwujud sebuah rumah tangga yang harmonis, baik laki-laki (suami) dan perem￾puan (istri) harus saling meng￾erti. Keduanya memiliki hak dan kewajiban yang sama. Namun, hal itu bukan berarti perempuan bekerja keras membanting tulang seperti laki-laki.
Ketika telah menjadi seorang ibu maka perempuan mempunyai kedudukan mulia yang harus dihormati oleh anaknya setelah ayahnya. 

"Wahai Rasulullah siapakah di antara manusia yang paling berhak untuk aku berbuat baik kepadanya?

Rasulullah menjawab; ‘Ibumu’. Kemudian siapa? 'Ibumu’, jawab beliau. Kembali orang itu bertanya, kemudian siapa? ‘Ibumu’, kemudian siapa, tanya orang itu lagi, ‘kemudian ayahmu’, jawab beliau.” (HR.  Bukhari dan Muslim).

Pilar-pilar yang menyangga hubungan antara laki-laki dan perempuan tampak jelas dalam 
firman Allah SWT: “..Sesungguhnya Aku (Allah) tidak akan menyia-nyiakan amalan orang￾orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempu￾an (karena) sebagian kamu ada￾lah turunnan dari sebagian yang lain." QS Ali Imran:195). 

Wallohu a’lambishshawab

(H Nuchasin M Soleh)