Hati-Hati dengan Sumpah
Foto :

SENANTIASA menyebut nama Allah SWT merupakan amalan sangat terpuji karena menyebut nama Allah menjadi sebuah dizikir mengingat pada Allah. 

Namun hendaklah berhati-hati tidak sembarangan menyebut nama Allah untuk bersumpah terlebih hanya untuk main-main karena tidak dibernarkan dalam Islam.

Dalam kehidupan sehari-hari sering ditemukan kasus mempermainkan sumpah, yaitu orang mengucapkannya dengan tujuan mengklaim tidak bersalah, padahal dia salah. meyakinka

Sumpah sering kali digunakan untuk meyakinkan agar orang lain mempercayai perkataan dan pernyuataannya. 

Apalagi jika pernyataannya itu  dibarengi dengan atas nama Allah sebagai argumen agar sumpahnya itu tidak diragukan kebenarannya.

Bersumpah menyatakan sesuatu seolah menjadi hal yang biasa, tanpa disadari tanpa dipikirkan dampak buruk manakala sumpah akan janjinya itu tidak benar. Allah tidak menyukai orang-orang yang mudah bersumpah. 

Sumpah atas nama Allah hanya boleh diucapkan ketika berada dalam posisi terjepit, misalnya ketika tak ada lagi orang yang percaya bahwa yang diucapkannya itu benar.

Ustadz Dhanu pernah mengatakan sumpah merupakan perjanjian yang diucapkan seseorang dengan tujuan agar dipercaya oleh orang lain atau sumpah untuk tujuan lain, dengan catatan isi sumpah tersebut harus dipenuhi. 

Setiap insan harus berhati-hati terhadap sumpah yang membawa-bawa nama Allah SWT. 

"Jadi sumpah itu bisa diucapkan demi Allah, Wallahi atau tanpa Allah pun (kita) sudah berniat bersumpah, itu sebenarnya karena Allah,” ujarnya.

Setiap sumpah yang diucapkan kelak akan menjadi pertanggung jawaban di akhirat.

Allah SWT akan menagih semua itu, maka apabila sumpah itu hanya dalih maka orang menghukummu berdosa. Hendaklah berhati-hati  jangan mudah bersumpah menyatakan ini dan itu. 

“Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpah yang kamu sengaja, Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah memberi Makan sepuluh orang miskin, Yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang budak. barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, Maka kaffaratnya puasa selama tiga hari. Yang demikian itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar) dan jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar kamu bersyukur (kepada-Nya)"(QS. Al-Maidah: 89). 

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)