Jujur Itu Fondasi Kebenaran
Foto :

KEJUJURAN adalah fondasi atas tegaknya nilai-nilai kebenaran. Sebab, jujur identik dengan kebenaran. Allah SWT berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah Swt. dan ucapkanlah perkataan yang benar.” (Q.S. al-Ahzāb (33):70).

Untuk jujur dalam perkataan dan perbuatan tidak mudah, apalagi bagi yang terbiasa berkata dan berbuat tidak jujur. Sedangkan bagi orang yang terbiasa berkata atau berbuat jujur akan merasa gelisah ketika  akan melakukan sesuatu yang bertentangan dengan nuraninya, ketika akan selingkuh, korupsi atau berbuat maksiat lainnya.

Buya Hamka dalam bukunya “Bohong Di Dunia” menulis: “Kebesaran hati dapat kita ketahui dari jiwa seseorang yang dapat kita letakkan pada tempatnya jika sekiranya dia bersikap terus terang. Orang yang berani berkata terus terang adalah orang yang mendidik jiwanya untuk merdeka. Orang yang berani menerima perkataan orang yang berterus terang adalah orang yang membimbing  jiwanya kepada kemerdekaan.

Orang yang suka berterus terang adalah orang yang tindakan dan perbuatannya membuktikan bahwa dia tidak berhenti memperbaiki dan meluruskan jalan hidupnya, kata Buya.

Menurut Imam Al-Ghazali sifat jujur dimiliki setiap Nabi dan Rasul. Artinya, orang-orang yang selalu istiqamah atau konsisten mempertahankan kejujuran, sesungguhnya memiliki separuh dari sifat kenabian.

Imam al-Ghazali menyatakan bahwa ada sifat-sifat jujur atau benar (siddiq) sebagai berikut: pertama, jujur dalam niat atau berkehendak, yaitu tiada dorongan bagi seseorang dalam segala tindakan dan gerakannya selain dorongan karena Allah SWT.

Kedua, jujur dalam perkataan atau lisan yakni berita yang diterima dengan yang disampaikan sesuai.  Barang siapa mampu menjaga lidah dengan cara selalu menyampaikan berita yang sesuai dengan fakta yang sebenarnya, maka ia termasuk jujur jenis yang kedua.

Menepati janji termasuk jujur jenis kedua ini. Jujur dalam perbuatan atau amaliah adalah beramal dengan sungguh-sungguh. Sehingga, perbuatan żahirnya tidak menunjukkan sesuatu yang ada dalam batinnya dan menjadi tabiat untuk dirinya.

Orang beriman itu perkataan dan perbuatannya sesuai. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangatlah dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apaapa yang tidak kamu kerjakan.” (Q.S. aś-Śaff (61):2-3).

Jujur adalah sikap tulus dalam melaksanakan sesuatu yang diamanatkan, baik berupa harta atau tanggung jawab. Segala sesuatu yang diamanatkan kepadanya menjadi aman dan terjamin dari segala bentuk gangguan, baik dari dirinya sendiri ataupun dari orang lain.

Sifat jujur dan terpercaya adalah hal paling penting dalam segala aspek kehidupan, seperti dalam kehidupan rumah tangga, perniagaan, perusahaan, dan hidup bermasyarakat.

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)