Tawakal Bukan Hanya Pasrah
Foto :

 

IMAM Al-Ghazali mengatakan tawakal bukanlah orang yang pasrah diri, diam diri hanya berdoa pasrah kepada Allah tanpa ada ikhtiar atau usaha, apalagi mereka yang memiliki tanggungan keluarga untuk mencari nafkah.

Diam dan pasrah bukan berarti tawakal. Imam Al-Ghazali mengibaratkan orang seperti itu sebagai orang yang bodoh ibarat daging yang tak bernyawa. Tawakkal adalah usaha yang dilakukan dengan senang hati tanpa paksaan untuk mendapatkan yang bermanfaat. Sk

Selanjutnya diikuti dengan berdoa agar apa yang diharapkan bisa terwujud. Allah SWT berfirman, "...Sesungguhnya, Allah menyukai orang-orang yang bertawakal....." (QS. Ali 'Imran: 159).

Setelah mendapatkan manfaatnya maka harus dijaga dan disimpan dengan baik kemanfaatan itu, agar tidak sias-sia usahanya. Selain itu berhemat agar kelebihannya bisa disimpan tapi bukan menjadi kikir.

Orang sakit harus berikhtiar untuk berobat agar bisa sembuh bukannya hanya pasrah dan berdoa melainkan datang ke dokter untuk berobat dan meminum obat.  

Menurut Imam Al Ghazali orang sakit tapi tidak mau berobat dan tidak mau minum obat bukan termasuk orang yang tawakal bahkan orang seperti itu telah melakukan dosa.

Mana mungkin makanan bisa masuk kedalam mulutnya tanpa melibatkan tangan sehingga makanan masuk kedalam perut.

M. Quraish Shihab mengatakan menurut Imam Al-Ghazali, tawakal itu digunakan dalam tiga tempat: 1) Tawakal kepada keputusan Allah. Maksudnya, engkau harus memiliki keyakinan penuh dan merasa puas dengan keputusan apa pun dari Allah. Hukum Allah tak akan berubah, seperti yang tercantum dalam Al-Qur’an dan hadis.

2) Tawakal kepada pertolongan Allah. Engkau harus bersandar dan percaya penuh pada pertolongan Allah Azza wa Jalla. Jika engkau menyandarkan diri pada pertolongan Allah dalam dakwah dan perjuangan bagi agama Allah, maka Allah pasti akan menolongmu.

3) Tawakal berkaitan dengan pembagian rezeki yang diberikan oleh Allah. Engkau harus yakin bahwa Allah Azza wa Jalla akan mencukup nafkah dan keperluan kita sehari-hari.

Rasulullah SAW bersabda, “Jika kalian bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal kepada-Nya, niscaya Dia akan memberimu rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung. Burung itu keluar dari sarangnya di pagi hari dalam keadaan perut yang kosong dan pulang di sore hari dalam keadaan perut terisi penuh.” (HR Imam Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa-i, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al-Hakim).

Menurut Buya Hamka tawakal itu menyerahkan keputusan segala perkara, ikhtiar dan usaha kepada Allah sepenuhnya kepada-Nya untuk mendapatkan kemaslahatan atau menolak kemudaratan.

Tawakal itu adalah landasan atau tumpuan terakhir dalam sesuatu usaha atau perjuangan. Baru berserah diri kepada Allah setelah menjalankan ikhtiar. Mengunci motor di tempat parkir kemudian pasrah pada Allah. 

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)