Menjadi Muslih
Foto :

IDEALNYA seorang muslim menjadi Muslih memiliki kesalehan baik untuk diri sendiri dan kesalehan sosial sehingga kehidupan lebih bermakna.

Rasulullah bersabda: “Muslim yang baik adalah ketika orang lain telah merasa aman dari gangguan lidah dan tangannya” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Dalam Al Qur’an disebutkan ada orang yang mendustakan agamanya. “Tahukah kamu (orang) yang mendustakan Agama? Itulah orang yang menghardik anak yatim dan tidak menganjurkan memberi makan orang miskin.

Maka kecelakaanlah bagi orang yang sholat (yaitu) orang-orang yang lalai dari sholatnya, orang-orang yang bertbuat riya dan enggan (menolong dengan) barang berguna.” (QS Al Maa-un :1-7).

Kesalehan seseorang tidak bisa diukur hanya dari ibadah ritualnya seperti shalat dan puasa  saja melainkan juga  amal shaleh sosialnya, amal shaleh terhadap sesamanya

Secara etimologi, saleh itu artinya bagus/baik. Saleh artinya bukan sekedar sholat, puasa dan amalan baik lainnya melainkan juga pemahaman dari amalan baik yang ia lakukan sehingga amalan baiknya seirama dengan yang dipahaminya  sesuai syariat agamanya.

Kalaulah amalan itu diukur hanya dengan lahiriyahnya maka sungguh amat banyak orang yang dapat disebut orang saleh.

Tetapi Khalifah Umar tidak mau menerima berita yang hanya diketahui dari gambaran lahiriyahnya semata, karena terlalu banyak perkara lahiriyahnya padahal amalan hati akhlaknya tidak baik.

Suatu ketika seseorang berkata kepada  Khalifah Umar:”Alangkah shalehnya orang itu, wudhu’nya sempurna dan sholatnya khusuk.

Mendengar itu Khalifah Umar bertanya:”Apakah engkau tinggal /hidup bersama dengan dia?” Orang itu menjawab:” Tidak!”

Umar bertanya lagi: “Apakah engkau pernah menguji dengan harta?” Orang itu berkata: “Tidak pernah?”

Lalu Khalifah Umar berkata:”Betapakah engkau mengatakan sesuatu bahwa dia orang saleh padahal engkau tidak hidup bersamanya dan bermu’amalah dengannya?”

Betapa pentingnya kesalehan sosial. Rasulullah bersabda: “Maukah kalian Aku beri tahu tentang amal yang lebih tinggi daripada derajat puasa, shalat dan sedekah?”.

Para sahabat menjawab: Tentu saja kami mau. Beliau lalu melanjutkan sabdanya: “Yaitu mendamaikan hubungan sesama. Karena rusaknya hubungan sesama itu ibarat gunting penyukur. Tapi bukan gunting yang mencukur rambut, melainkan yang menggunting agama” (HR. Abu Dawud).

Imam Al Ghazali dalam kitabnya Ihya Ulumuddin menjelaskan orang shaleh itu adalah orang yang baik secara pribadi. Sedangkan muslih adalah orang yang baik secara pribadi serta sosial.

Orang saleh baru sebatas kualitas kebaikannya untuk  dirinya sendiri, sedangkan Muslih selain baik pada diri sendiri  tapi kualitas kebaikannya bisaa merambah dan bermanfaat bagi orang lain.

Menjadi orang salih itu belum cukup harus menjadi orang yang lebih penting yakni Muslih menjadi manusia yang lebih utuh baik secara pribadi maupun soasial.

Wallohu a’lambishshawab.

(H Nuchasin M Soleh)