Polemik Naturalisasi, PSSI Diminta Fokus Gali Potensi Usia Dini

Eka
Polemik Naturalisasi, PSSI Diminta Fokus Gali Potensi Usia Dini
Para pemain timnas Indonesia (ilustrasi/ist)

Jakarta, HanTer - Timnas Indonesia sedang berjuang di babak Kualifikasi Piala Dunia 2022. Namun di luar itu rupanya tercium polemik internal. Hal itu terkuak setelah mantan pemain naturalisasi Indonesia berdarah Belanda, Jhon van Beukering mengkritik Direktur Teknik PSSI, Indra Sjafri. 

Beukering menilai performa timnas Indonesia yang tak kunjung membaik tak lepas akibat ulah Indra Sjafri. Mengapa? Ia menuturkan melalui laman instagram pribadinya, kegagalan Garuda, julukan timnas Indonesia lantaran tidak adanya niatan Indra Sjafri untuk memberi kesempatan terhadap empat pemain naturalisasinya.

Adapun empat pemain yang disebut Van Beukering adalah Sandy Walsh, Kevin Diks, Joey Suk, dan Ezra Walian. "Buka hati, buka pikiran, mereka sama seperti kamu punya hak untuk membela tanah air leluhur mereka, darah yang mengalir tidak bisa dihapus, mereka juga orang Indonesia!" kata Beukering. 

Namun rupanya, keluhan Beukering justru mendapatkan kritik pedas. Utamanya dikatakan Save Our Soccer (SOS) selaku lembaga pemerhati sepakbola Tanah Air. Akmal Marhali selaku koordinator SOS menegaskan, bahwa keluhan Beukering dianggap 'salah alamat'. Sebab sejatinya keputusan pemanggilan pemain, sepenuhnya hak pelatih. 

"Van Buekering lupa bahwa dia adalah produk naturalasisasi pemain keturunan yang gagal. Tidak bijak melempar itu ke dirtek. Tugas dirtek bukan mengakomodasi pemain keturunan," kata Akmal kepada Harian Terbit, Rabu (9/6/2021).

"Tugas dirtek membangun pondasi pembinaan pemain yang kokoh untuk menciptakan timnas yang kuat. Bukan mengurus naturalisasi. Sudah 100 lebih pemain dinaturalisasi, rekor terbanyak di dunia sepakbola. Toh, tidak menghasilkan apa-apa, cuma naturalisasi delusional (khayalan -red)," jelasnya menambahkan.

Menurutnya, masalah yang terjadi di ranah sepakbola Indonesia, khususnya timnas sebagai muara akhir, tak lepas lantaran menyangkut pembinaan usia dini serta tata kelola yang sehat. Akmal menerangkan, dua tiang pancang ini yang akan mendorong prestasi sepakbola Indonesia (timnas -red), bukan naturalisasi.

"Naturalisasi itu delusional. Mereka yang ngebet minta naturalisasi karena kemampuannya sudah tidak terpakai di negara asal. Sehingga berharap bisa berlabel timnas lewat naturalisasi di Indonesia. Lucu sekali, kok mereka ngebet benar minta dinaturalisasi," cetusnya.

Ia mencontohkan, Radja Nainggolan misalnya. Pemain internasional Belgia itu juga berdarah Indonesia. Akan tetapi sang pemain lebih memilih Belgia karena peluang untuk berprestasi lebih besar. "Baru bila tidak masuk kualifikasi Belgia, ia akan memilih negara lain termasuk Indonesia," ucap dia. 

Untuk itu, SOS meminta kepada PSSI agar kiranya tidak terpaku dengan cara instan seperti program naturalisasi yang terbukti hanya sebatas berujung delusi. Lebih baik, jelas dia, PSSI mempunyai komitmen tinggi untuk menggalakkan program pembinaan usia dini. 

"Investasi terbaik adalah membina anak bangsa sendiri. Indonesia negara besar. Merdeka lewat kekuatan sendiri. Naturalisasi membunuh potensi anak negeri dan bukti ketidakpercayaan diri. Tugas pengurus PSSI membina pemain produk dalam negeri untuk berprestasi. Sekali lagi, membina, bukan membeli," tegasnya. 

"Masalahnya ada di pembinaan. Mulai dari program dan kurikulum yang sistemik sampai soal mindset. Kita malas membina. Maunya pakai cara instan. Ditambah ambisi harus juara menghalalkan berbagai cara ikut mempengaruhi mental. Plus tentunya, edukasi soal gizi dan nutrisi yang tak pernah disentuh."

"Spanyol contohnya. Mereka butuh 20 tahun berproses membina sampai akhirnya merajai Eropa dan dunia. Jerman perlu 13 tahun untuk kembali juara dunia. Mereka berpikir sistemik dengan membangun pondasi. Tidak instan. Berproses. Mereka juga menciptakan kompetisi berjenjang dan kompetisi profesional yang sehat," pungkasnya mengakhiri.